Rupiah Melemah, Desa Ikut Rasakan Dampaknya

Budi Santoso

Rupiah Melemah, Desa Ikut Rasakan Dampaknya

Ekonom menilai pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyatakan masyarakat desa tidak menggunakan dolar AS secara literal benar, namun pelemahan rupiah tetap berdampak luas. Ronny P Sasmita dari ISEAI menjelaskan, meskipun tidak bertransaksi langsung dengan dolar, masyarakat desa tetap merasakan imbasnya melalui kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok seperti pupuk, BBM, logistik, pakan ternak, obat-obatan, mesin pertanian, bahkan sebagian bahan pangan. Ia berpendapat narasi yang menyederhanakan masalah ini berisiko.

Ronny menguraikan tiga risiko utama dari pernyataan tersebut. Pertama, risiko psikologis pasar. Investor yang sensitif terhadap komunikasi pejabat tinggi negara dapat menganggap remeh tekanan rupiah, yang berpotensi memicu respons kebijakan yang kurang agresif dan memperparah pelemahan rupiah serta arus modal keluar. Kedua, risiko kepercayaan publik. Masyarakat saat ini lebih peka terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok. Jika ada kesenjangan persepsi antara apa yang dirasakan masyarakat dan kesan yang diberikan elite, kepercayaan publik bisa menurun, yang dampaknya bisa panjang. Ketiga, risiko ekspektasi inflasi. Pernyataan yang terlalu simplistis dapat membuat pemerintah terkesan defensif, padahal pasar membutuhkan pengakuan realistis atas keseriusan pelemahan rupiah dan komitmen penjagaan bersama.

Ia menekankan bahwa investor lebih tenang terhadap pemimpin yang mengakui tantangan secara terbuka. Yang dibutuhkan pasar bukan sekadar kalimat penenang, tetapi keyakinan pada strategi kredibel pemerintah. Komunikasi ekonomi di situasi seperti ini harus ekstra hati-hati, karena salah narasi sedikit saja bisa memicu reaksi pasar yang lebih cepat daripada koordinasi internal.

Baca Juga :  BI Perluas Penggunaan Yuan untuk Devisa Hasil Ekspor SDA

Sementara itu, Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira, menyarankan pemerintah untuk fokus pada skenario mitigasi daripada terkesan menantang situasi tanpa persiapan. Ia khawatir sikap dan komunikasi yang terkesan menantang tanpa kesiapan ini membahayakan, menciptakan ketenangan semu bagi masyarakat yang justru tidak siap menghadapi guncangan mendadak. Berbeda dengan pemimpin negara lain yang tengah menyiapkan skenario terburuk mengingat efek perang yang masih panjang.

Bhima mengingatkan bahwa pelemahan rupiah terhadap dolar AS yang mencapai sekitar 7% dalam setahun terakhir merupakan alarm serius yang dapat berdampak pada investasi dan ketenagakerjaan. Ia memperingatkan bahwa dampaknya akan merambat ke pedesaan, menyebabkan kenaikan harga barang kebutuhan pokok. Lebih lanjut, pelemahan rupiah yang terus berlanjut dapat memicu PHK massal di perkotaan, yang kemudian membanjiri desa dengan para pengangguran tanpa penghasilan, menambah beban sosial dan ekonomi di tingkat pedesaan.

Also Read

Tinggalkan komentar