Rupiah Melemah, BI Ungkap 3 Faktor Pemicu Utama

Budi Santoso

Rupiah Melemah, BI Ungkap 3 Faktor Pemicu Utama

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo membeberkan secara rinci penyebab pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus angka Rp 17.600 per dolar Amerika Serikat. Tiga faktor utama yang saling terkait menjadi pemicu utama pelemahan ini, yaitu kombinasi tekanan dari faktor global, pergerakan teknikal pasar, dan lonjakan permintaan valuta asing di dalam negeri. Perry menjelaskan bahwa periode April hingga Juni menjadi masa krusial di mana kebutuhan dolar AS di Indonesia meningkat tajam. Kenaikan permintaan ini didorong oleh beberapa pos pengeluaran penting, termasuk pembayaran dividen oleh perusahaan kepada investor asing, serta kebutuhan mendesak untuk transaksi pembayaran jemaah haji yang akan berangkat menunaikan ibadah. Selain itu, pembayaran utang luar negeri juga turut berkontribusi pada tingginya permintaan valuta asing tersebut. Perry menyampaikan hal ini dalam forum rapat kerja bersama Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) yang diselenggarakan di kompleks Parlemen pada hari Senin, 18 Mei 2026.

Di luar faktor domestik, Perry juga menyoroti peran signifikan tekanan global yang menyebabkan dolar AS menguat secara signifikan terhadap sebagian besar mata uang dunia, termasuk rupiah. Salah satu pemicu utama ketegangan global adalah eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang telah berlangsung sejak Februari tahun ini. Perang ini secara langsung meningkatkan risiko geopolitik global, menciptakan ketidakpastian yang meluas di pasar keuangan internasional. Kondisi ini berdampak pada pergerakan harga komoditas energi, di mana harga minyak mentah Brent sempat melonjak drastis hingga melampaui level US$ 120 per barel. Bersamaan dengan itu, inflasi yang masih tinggi di Amerika Serikat turut mempengaruhi ekspektasi pasar mengenai kebijakan suku bunga The Fed. Kenaikan inflasi membuat pasar memprediksi bahwa The Fed akan menunda atau memperlambat laju penurunan suku bunga acuannya. Akibatnya, imbal hasil atau yield obligasi Amerika Serikat mengalami kenaikan. Fenomena ini mendorong terjadinya arus modal keluar (capital outflow) dari negara-negara berkembang menuju Amerika Serikat, yang kemudian memperkuat posisi dolar AS dan menekan mata uang negara-negara berkembang seperti rupiah. Perry menjelaskan bahwa kenaikan suku bunga global memiliki dampak langsung terhadap kondisi domestik. Jika suku bunga di dalam negeri tidak mengalami kenaikan, maka pelarian modal akan sulit dihindari. Untuk mencegah outflow, suku bunga domestik harus disesuaikan agar tetap kompetitif. Hal ini menunjukkan adanya tren pelarian modal dari pasar negara berkembang menuju negara maju, terutama Amerika Serikat.

Baca Juga :  Subsidi Transportasi Pekerja Jakarta: Wajah Baru Perkotaan 2025

Meskipun demikian, Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan optimisme bahwa tekanan terhadap rupiah bersifat sementara. Bank Indonesia meyakini bahwa nilai tukar rupiah akan menunjukkan tren penguatan kembali pada periode Juli hingga Agustus mendatang. Keyakinan ini didasarkan pada proyeksi meredanya kebutuhan valuta asing di dalam negeri seiring dengan selesainya periode pembayaran dividen dan haji, serta membaiknya kondisi pasar global. Perry menegaskan bahwa kondisi rupiah saat ini dianggap undervalued, yang berarti nilainya lebih rendah dari nilai intrinsiknya. Ia merujuk pada target rata-rata nilai tukar rupiah sepanjang tahun 2026 yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp 16.500 per dolar AS. Kisaran yang diproyeksikan adalah antara Rp 16.200 hingga Rp 16.800. Keyakinan ini diperkuat oleh data rata-rata nilai tukar year-to-date yang tercatat sebesar Rp 16.900. Dengan demikian, BI berkeyakinan bahwa penguatan rupiah akan terjadi seiring dengan stabilisasi faktor-faktor pendorong pelemahan saat ini.

Also Read

Tinggalkan komentar