
Produsen tahu dan tempe di Kota Semarang, Jawa Tengah, dilanda kecemasan akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Kondisi ini dikhawatirkan akan semakin melambungkan harga kedelai, bahan baku utama yang telah mengalami kenaikan bertahap sejak awal tahun. Adib Mukharam, seorang pengusaha tempe di Pandean Lamper, Gayamsari, mengungkapkan keprihatinannya. Saat ini, harga kedelai telah melonjak ke angka Rp 10.500 per kilogram, berbanding terbalik dengan harga di awal tahun yang masih berkisar Rp 8.000 per kilogram. Dalam sebulan terakhir saja, kenaikan harga kedelai mencapai Rp 250 per kilogram, yang jika diakumulasi menunjukkan peningkatan signifikan sekitar 25 persen dalam empat bulan terakhir.
Usaha tempe Adib membutuhkan pasokan kedelai antara 500 hingga 600 kilogram per hari. Kenaikan harga kedelai ini memaksa Adib untuk menambah modal atau biaya produksi. Tak hanya kedelai, harga plastik sebagai kemasan juga mengalami lonjakan tajam. Jika sebelumnya satu rol plastik dibanderol Rp 550.000, kini harganya mencapai Rp 1.150.000 per rol. Akibat himpitan kenaikan harga bahan baku ini, Adib terpaksa menaikkan harga jual tempe sekitar Rp 1.000 per bungkus atau papan. Namun, untuk menjaga agar harga tidak terlalu tinggi, Adib juga terpaksa mengurangi porsi tempe per bungkus, dengan harapan harga jual tetap terjangkau oleh masyarakat.
Adib semakin khawatir jika harga kedelai akan kembali meroket seiring dengan terus melemahnya nilai rupiah. Mayoritas kedelai yang digunakan di Indonesia merupakan hasil impor, sehingga mau tidak mau para produsen harus mengikuti harga dari importir yang mengikuti kurs dolar AS. Kekhawatiran terbesarnya adalah daya beli masyarakat yang kemungkinan akan ikut melemah jika harga kebutuhan pokok terus naik. "Yang jadi pertanyaan, ketika harga makanan semuanya naik, tapi ternyata ekonomi masyarakat juga turun, akhirnya daya beli jadi turun," ujar Adib. Ia berharap pemerintah dapat mengambil tindakan konkret untuk menstabilkan nilai tukar rupiah.
Senada dengan Adib, Joko Wiyatno, pemilik pabrik tahu di Jomblang, Candisari, juga merasakan dampak kenaikan harga kedelai. Harga kedelai yang awalnya Rp 7.000-Rp 8.000 per kilogram, kini melonjak menjadi Rp 10.600-Rp 10.700 per kilogram. Kenaikan harga kedelai semakin terasa, terutama setelah terjadinya perang di Timur Tengah, dan diperparah dengan anjloknya nilai tukar rupiah. Seperti halnya tempe, pasokan kedelai untuk tahu juga mayoritas berasal dari impor.
Joko berharap harga kedelai tidak terus merangkak naik, mengingat daya beli masyarakat saat ini sedang melemah dan pangsa pasar tahu juga mengalami penurunan. Ia juga merasakan lonjakan harga plastik kemasan hingga 100 persen. Untuk plastik tong, harga naik dari Rp 30.000 menjadi Rp 60.000 per kilogram. Pabrik tahu Joko mengolah 700-900 kilogram kedelai per hari. Kenaikan biaya produksi ini mengikis margin keuntungan karena Joko enggan menaikkan harga jual tahu.
Untuk menyiasati kondisi ini, Joko terpaksa mengurangi takaran kedelai per produksi tahu, meskipun pengurangannya tidak bisa banyak agar kualitas tahu tidak terlalu tipis. Ia pun berharap pemerintah dapat menstabilkan harga kedelai dan nilai tukar rupiah. Joko memperingatkan bahwa jika ongkos produksi terus meroket dan tidak sepadan dengan keuntungan, ia terpaksa meliburkan sementara usahanya. Saat berita ini ditulis, nilai satu dolar AS setara dengan Rp 17.700.











