
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) memberikan tekanan signifikan terhadap industri manufaktur nasional, terutama bagi sektor yang sangat bergantung pada impor bahan baku. Para pelaku usaha dilaporkan terus berupaya melakukan berbagai penyesuaian demi menjaga keberlanjutan produksi di tengah gejolak volatilitas kurs yang terjadi. Benny Soetrisno, Ketua Gabungan Pengusaha Eksportir Indonesia (GPEI), menyatakan bahwa dunia usaha secara konsisten beradaptasi terhadap fluktuasi nilai tukar untuk memastikan kelancaran operasional industri. "Dunia usaha selalu melakukan penyesuaian perubahan nilai tukar. Hal tersebut di samping terjadi perubahan biaya produksi juga berdampak pada struktur pembiayaan industri," jelas Benny kepada Republika.
Menurut Benny, tekanan terbesar dirasakan oleh industri manufaktur yang masih sangat mengandalkan bahan baku dan bahan penolong dari luar negeri. Kenaikan kurs dolar secara langsung berdampak pada peningkatan biaya produksi, yang pada akhirnya semakin menekan margin keuntungan perusahaan. "Dampak untuk biaya produksi industri manufaktur, terutama terjadi pada sektor yang bahan baku dan bahan penolongnya masih diimpor," tambahnya, yang juga merupakan mantan Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API).
Benny lebih lanjut mengungkapkan bahwa tingkat ketergantungan industri manufaktur nasional terhadap bahan baku impor masih tergolong tinggi. Data menunjukkan bahwa sekitar 70 persen kebutuhan bahan baku industri manufaktur masih dipenuhi dari impor. Situasi ini membuat pelemahan rupiah sangat memengaruhi besaran ongkos produksi secara keseluruhan. "Bahan baku dalam struktur biaya produksi sekitar 60 persen dari total biaya," tegas Benny.
Senada dengan hal tersebut, Rizal Taufikurrahman, Kepala Center of Macroeconomics and Finance Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), menilai bahwa pelemahan rupiah yang menembus kisaran Rp17.500 per dolar AS memberikan beban yang berat bagi industri manufaktur nasional. Rizal menyoroti bahwa banyak sektor manufaktur masih sangat bergantung pada impor, tidak hanya untuk bahan baku, tetapi juga untuk mesin dan komponen penting lainnya.
Sektor-sektor yang dinilai paling rentan terhadap depresiasi rupiah meliputi industri otomotif, elektronik, farmasi, tekstil, hingga makanan-minuman. "Industri otomotif, elektronik, farmasi, tekstil, hingga makanan-minuman menjadi paling rentan karena depresiasi rupiah langsung menaikkan biaya produksi, logistik, dan energi," ujar Rizal. Selain itu, industri juga dihadapkan pada tekanan dari sisi permintaan domestik yang cenderung melemah akibat tertekannya daya beli masyarakat, menciptakan tekanan ganda bagi sektor manufaktur.
Faktor eksternal seperti penguatan dolar AS, suku bunga global yang cenderung tinggi, ketegangan perang dagang antarnegara, serta ketidakpastian geopolitik secara global turut mendorong arus keluar modal dari negara-negara berkembang. Dari sisi domestik, tingginya ketergantungan impor serta lemahnya struktur industri hulu menjadikan sektor manufaktur sangat sensitif terhadap gejolak nilai tukar. "Jika berlangsung lama, kondisi ini berisiko menahan ekspansi industri, menekan utilisasi pabrik, hingga mempercepat deindustrialisasi dini," pungkas Rizal, menggarisbawahi potensi dampak jangka panjang yang mengkhawatirkan jika situasi ini tidak segera diatasi.











