Rupiah Jeblok, Beban Ekonomi Pindah ke Nilai Tukar

Budi Santoso

Rupiah Jeblok, Beban Ekonomi Pindah ke Nilai Tukar

Pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus Rp17.800 per dolar AS di pasar offshore menjadi sorotan serius. Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menjelaskan bahwa fenomena ini adalah akibat dari akumulasi tekanan ekonomi yang berat. Dalam kondisi normal, kenaikan harga energi global seharusnya memicu kenaikan inflasi, membebani fiskal, mendongkrak harga domestik, dan akhirnya menekan nilai tukar. Namun, ketika pemerintah Indonesia memilih untuk menjaga stabilitas sosial dan daya beli masyarakat dengan penyesuaian domestik yang sangat hati-hati, tekanan ekonomi tersebut justru lebih banyak dialihkan ke rupiah.

Fakhrul menganalogikan rupiah sebagai shock absorber utama. Inflasi dan harga energi domestik berhasil ditahan, namun tekanan ekonomi global tidak hilang, melainkan bergeser dan terkonsentrasi pada nilai tukar. Hal ini menyebabkan pelemahan rupiah terlihat jauh lebih signifikan dibandingkan dengan pergerakan indikator ekonomi lainnya. Kondisi ini sejalan dengan teori Dornbusch Overshooting, di mana harga domestik yang kaku berhadapan dengan pergerakan pasar keuangan yang cepat, sehingga nilai tukar mengalami fluktuasi yang jauh lebih ekstrem dari fundamentalnya. Inflasi yang seharusnya tersebar di berbagai sektor, akhirnya ditanggung sepenuhnya oleh rupiah. Fenomena ini umum terjadi di negara berkembang yang memprioritaskan stabilitas harga domestik dalam jangka pendek.

Pemerintah Indonesia saat ini menghadapi dilema klasik: menyeimbangkan antara menjaga daya beli masyarakat dan mempertahankan stabilitas eksternal. Keputusan untuk menahan penyesuaian harga energi, meskipun dapat dipahami dari perspektif sosial dan politik, memiliki konsekuensi ekonomi yang signifikan, yaitu memusatkan tekanan pada pasar keuangan. Ketika harga domestik dibiarkan kaku di tengah lonjakan tekanan global, pasar valuta asing menjadi yang paling terdampak dan bergerak ekstrem.

Baca Juga :  Ancaman Siber Meningkat, Kolaborasi Tingkatkan Keamanan Digital Indonesia

Meskipun fundamental ekonomi Indonesia secara umum masih relatif baik dibandingkan negara berkembang lainnya, dengan inflasi domestik terkendali, sektor perbankan sehat, dan pertumbuhan ekonomi positif, pasar saat ini tidak hanya melihat angka-angka tersebut. Pasar juga menilai apakah Indonesia memiliki jangkar kebijakan yang cukup kuat untuk menghadapi era global baru yang cenderung lebih volatil dan inflasi. Yang diuji bukan hanya fundamental ekonomi, tetapi juga kredibilitas dan konsistensi kebijakan.

Faktor global, seperti ketegangan geopolitik, fragmentasi perdagangan dunia, penguatan dolar AS, dan tingginya imbal hasil US Treasury, memang turut menekan rupiah. Namun, faktor domestik juga berperan penting. Pasar melihat adanya ketidakseimbangan antara kebijakan fiskal dan moneter, serta munculnya komunikasi kebijakan yang mendadak di tengah sentimen pasar yang buruk, yang semuanya memperbesar ketidakpastian. Ketika sektor fiskal memilih untuk menjaga inflasi tetap rendah dan penyesuaian harga sangat terbatas, Bank Indonesia dan rupiah terpaksa bekerja jauh lebih keras untuk menyerap tekanan tersebut. Rupiah di pasar offshore sempat bergerak melemah hingga melewati Rp17.800 per dolar AS saat pasar domestik libur Idul Adha. Pada Kamis (28/5/2026) pukul 12.21 WIB, kurs rupiah tercatat berada di level Rp17.873,5 per dolar AS berdasarkan perdagangan spot di pasar valas global.

Also Read

Tinggalkan komentar