
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis rupiah akan menguat seiring dengan masuknya modal asing ke pasar obligasi Indonesia. Pernyataan ini disampaikan dalam konferensi pers di Jakarta pada Selasa (19 Mei). Pemerintah telah mengambil langkah strategis, termasuk pembelian obligasi di pasar sekunder, untuk menjaga stabilitas pasar keuangan domestik di tengah tekanan global dan pelemahan rupiah. Purbaya meyakini rupiah tidak akan bertahan lama di level rendahnya. "Kami sudah melihat peningkatan sentimen di pasar obligasi, bukan? Dana mulai masuk, dan saya pikir akan lebih banyak yang masuk di masa depan, sehingga rupiah akan menguat," ujarnya. Pada Selasa, rupiah ditutup pada level Rp17.706 per dolar AS, mengalami pelemahan dari level sebelumnya Rp17.668.
Pemerintah telah melakukan intervensi di pasar obligasi sejak pekan lalu untuk meredakan tekanan dan menjaga kepercayaan investor, yang diklaim telah mulai menurunkan imbal hasil obligasi pemerintah. Purbaya menambahkan bahwa investor asing mulai kembali ke pasar obligasi, baik di pasar sekunder maupun primer. Di pasar sekunder, arus masuk asing mencapai sekitar Rp500 miliar (US$28,2 juta), sementara di pasar primer totalnya mencapai sekitar Rp1,68 triliun (US$94,77 juta). Arus masuk dana asing ini dianggap sebagai tanda awal pemulihan kepercayaan investor terhadap pasar utang Indonesia. "Langkah kami untuk menjaga stabilitas pasar obligasi telah memulihkan kepercayaan investor asing terhadap obligasi kami. Mereka mulai masuk, dan arus masuk dolar juga mulai kembali, seperti yang diharapkan," tambahnya. Purbaya menegaskan bahwa pemerintah akan terus memantau perkembangan arus modal asing ke pasar obligasi.
Lebih lanjut, Purbaya memastikan bahwa pemerintah tidak akan merevisi asumsi nilai tukar rupiah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Asumsi harga minyak global juga akan tetap di angka US$100 per barel. "Saya tidak perlu mengubah apa pun lagi. Kami sudah menerapkan langkah-langkah penghematan yang kami yakini cukup untuk situasi saat ini, dan asumsi rupiah sudah disesuaikan selama simulasi," pungkasnya. Langkah-langkah yang diambil pemerintah mencakup intervensi pasar, baik melalui pembelian obligasi di pasar sekunder maupun upaya untuk menarik investor ke pasar primer. Intervensi ini bertujuan untuk menstabilkan imbal hasil obligasi pemerintah, yang merupakan salah satu indikator penting kepercayaan investor terhadap surat utang negara. Dengan stabilnya imbal hasil, diharapkan investor asing akan semakin yakin untuk menempatkan dananya di pasar obligasi Indonesia.
Peningkatan arus masuk modal asing ke pasar obligasi merupakan sinyal positif bagi perekonomian Indonesia. Hal ini tidak hanya akan membantu menstabilkan nilai tukar rupiah, tetapi juga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Masuknya dana asing dapat meningkatkan likuiditas di pasar keuangan, menurunkan biaya pinjaman bagi pemerintah dan perusahaan, serta berpotensi menciptakan lapangan kerja. Pemerintah juga terus memantau perkembangan global yang dapat memengaruhi arus modal asing, seperti kebijakan moneter negara-negara maju dan kondisi geopolitik. Dengan pengelolaan yang cermat dan komunikasi yang transparan, pemerintah berupaya menjaga stabilitas ekonomi dan meningkatkan daya tarik Indonesia sebagai tujuan investasi. Keputusan untuk tidak merevisi asumsi nilai tukar rupiah dan harga minyak dalam APBN 2026 menunjukkan keyakinan pemerintah terhadap fundamental ekonomi Indonesia dan efektivitas kebijakan yang telah diterapkan. Langkah-langkah penghematan yang telah dilakukan juga dinilai cukup untuk menghadapi berbagai ketidakpastian ekonomi.











