
Sentimen negatif yang terus membayangi rupiah dan pasar saham Indonesia berujung pada pelemahan signifikan pada Kamis (30/4/2026). Aksi jual oleh investor asing, dipicu oleh kekhawatiran domestik dan kondisi global, menyeret nilai tukar rupiah ke level Rp 17.346 per dolar AS, kian mendekati ambang batas psikologis Rp 17.500. Bursa saham Tanah Air pun tak luput dari gempuran, terpuruk 143,43 poin ke angka 6.956, menjadikannya performa terburuk di antara bursa global dalam sepekan terakhir.
Pelemahan rupiah yang berkelanjutan menjadi perhatian serius sektor perbankan. Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, pekan lalu sempat menyatakan bahwa rupiah saat ini berada di bawah nilai wajarnya atau undervalued. Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dipatok pada Rp 16.500. Perry juga mengonfirmasi bahwa bank-bank telah melakukan stress test untuk mengukur dampak pelemahan rupiah terhadap kinerja internal mereka, seraya menenangkan pasar dengan menyatakan bahwa perbankan nasional memiliki ketahanan yang kuat pada level kurs saat ini.
Analisis mendalam terhadap data perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Maret 2026 menunjukkan adanya dampak nyata pelemahan rupiah pada beberapa indikator. Salah satunya adalah net margin transaksi valas perbankan yang mengalami tren penurunan. Jika pada Februari lalu net margin transaksi valas tercatat sebesar 0,60 persen, angka tersebut merosot menjadi 0,28 persen pada Maret, bahkan ketika posisi rupiah belum sedekat Rp 17.300 per dolar AS.
Lebih mencengangkan lagi, keuntungan bersih dari transaksi valas pada Februari hanya mencapai Rp 350 miliar, sebuah penurunan drastis sebesar 74 persen jika dibandingkan dengan perolehan Rp 1,35 triliun pada Januari. Data statistik perbankan OJK ini memperjelas betapa rentannya profitabilitas perbankan terhadap fluktuasi nilai tukar mata uang.
Pengamat ekonomi perbankan sekaligus Wakil Direktur Indef, Eko Listiyanto, memprediksi tren pelemahan rupiah akan terus menggerus net margin valas perbankan nasional. Ia menjelaskan bahwa pada Januari, ketika kurs rupiah masih berada di kisaran Rp 16.750 per dolar AS, net margin perbankan relatif stabil karena bank membeli dolar AS pada harga yang masih dianggap moderat.
"Ketika kurs Rupiah melemah maka margin valas yang diperoleh cukup besar (beli di bawah Rp 17 ribu, jual di atas Rp 17 ribu)," papar Eko. Namun, situasi berbalik ketika kurs rupiah menembus angka Rp 17.000. Dalam kondisi ini, bank harus membeli dolar AS dengan harga yang sudah lebih tinggi, sehingga saat menjualnya kembali kepada nasabah, net margin yang dihasilkan menjadi menyusut.
Pengamat dan praktisi perbankan, Ryan Kiryanto, menambahkan bahwa kondisi pelemahan nilai tukar rupiah ini mendesak bank, khususnya bank devisa, untuk melakukan uji ketahanan secara intensif. Hal ini sangat krusial bagi bank yang memiliki debitur dengan kebutuhan pembelian dolar AS untuk impor bahan baku, sementara produk mereka dijual dalam mata uang rupiah. Ryan menyoroti sektor farmasi, yang sangat bergantung pada impor bahan baku, sebagai salah satu industri yang paling rentan terdampak oleh situasi ini.
"Di level rupiah berapa dia bisa menanggung risiko itu," ujar Ryan, menyoroti pentingnya bank mengetahui batas toleransi risiko kurs mereka. Ia juga mengidentifikasi Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) level 3 dan 4 sebagai kelompok bank yang umumnya memiliki debitur dengan kebutuhan valas yang berpotensi terpengaruh. Bank KBMI 3, dengan modal inti di atas Rp 14 triliun hingga Rp 70 triliun, mencakup BSI, BTN, CIMB, OCBC, Bank Mega, dan Bank BJB. Sementara itu, KBMI 4, yang memiliki modal inti di atas Rp 70 triliun, adalah bank-bank raksasa seperti Bank Mandiri, BNI, BRI, dan BCA.











