
Nilai tukar rupiah terus terperosok hingga menyentuh angka Rp 17.700 per dolar AS pada Selasa (19/5/2026). Para pengamat menyoroti tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor pangan sebagai salah satu pemicu utama pelemahan mata uang nasional ini. Data dari Bloomberg menunjukkan rupiah melemah 38 poin atau 0,22 persen, ditutup pada level Rp 17.706 per dolar AS, melanjutkan tren negatif dari hari sebelumnya yang berada di Rp 17.667,5 per dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah kali ini dipengaruhi oleh kombinasi sentimen internal dan eksternal. Dari sisi internal, ketergantungan Indonesia yang sangat tinggi pada impor pangan menjadi sorotan utama. Hal ini berpotensi besar memicu kenaikan harga pangan domestik, mulai dari mi instan, roti, tahu, tempe, susu, hingga makanan olahan lainnya pada semester kedua tahun 2026.
Ibrahim merinci, komoditas pangan seperti gandum hampir seluruhnya dipenuhi dari impor. Kedelai menyusul dengan angka sekitar 90 persen impor, bawang putih 95 persen, gula 60 persen, serta daging sapi dan kerbau sekitar 54 persen juga bergantung pada pasokan luar negeri. Kondisi pelemahan rupiah secara otomatis meningkatkan biaya impor, mengingat mayoritas transaksi dilakukan dalam dolar AS. Lonjakan biaya impor ini berisiko memicu inflasi impor, yaitu kenaikan harga barang-barang konsumsi akibat depresiasi nilai tukar.
Transmisi pelemahan rupiah ke harga pangan konsumen bervariasi antar komoditas. Untuk gandum dan kedelai, dampaknya bisa terasa dalam hitungan minggu karena industri pengolahan langsung merasakan kenaikan biaya bahan baku. Kenaikan ini kemudian diteruskan ke konsumen dalam bentuk harga produk yang lebih mahal. Efek berantai ini terasa lebih cepat pada produk olahan dibandingkan bahan baku mentah, karena melibatkan biaya produksi, energi, distribusi, kemasan, dan logistik.
Sementara itu, sentimen eksternal yang turut memengaruhi pergerakan rupiah berasal dari dinamika konflik di Timur Tengah, khususnya antara Iran dengan AS-Israel. Meskipun ada klaim bahwa perang akan segera berakhir, ketegangan ini telah berdampak pada penutupan Selat Hormuz, jalur vital yang menyalurkan sekitar seperlima pasokan minyak global. Kekhawatiran akan gangguan pasokan energi ini turut memberikan tekanan pada nilai tukar. Pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai penundaan serangan terhadap Iran untuk memungkinkan negosiasi menunjukkan adanya upaya meredakan ketegangan, namun pasar tetap mencermati perkembangan situasi.
Faktor eksternal lainnya adalah kebijakan suku bunga Bank Sentral AS (The Fed). Rencana pelantikan Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed yang baru menggantikan Jerome Powell menimbulkan ketidakpastian di kalangan investor mengenai arah kebijakan moneter AS di masa mendatang. Investor cenderung berhati-hati dalam mengevaluasi potensi perubahan kebijakan The Fed di bawah kepemimpinan baru.
Dengan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa rupiah masih akan melanjutkan tren pelemahannya pada perdagangan Rabu (20/5/2026). Ia memperkirakan mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif namun ditutup melemah di kisaran Rp 17.700 hingga Rp 17.750 per dolar AS.











