
Rupiah terperosok ke level Rp 17.600 per dolar AS, dipicu oleh badai sempurna dari faktor eksternal dan sentimen domestik yang membebani. Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi, menyoroti ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran sebagai salah satu pemicu utama. Eskalasi konflik ini mengancam jalur vital perdagangan dunia, Selat Hormuz, yang berimplikasi pada lonjakan harga minyak mentah global. "Dengan kenaikan harga minyak mentah yang cukup signifikan, indeks dolar yang juga mengalami penguatan, ini berdampak terhadap kebutuhan dolar yang cukup tinggi dari Indonesia karena Indonesia impor minyak mentah 1,5 juta barel per hari," ungkap Ibrahim. Ketergantungan Indonesia pada impor minyak mentah menjadikannya rentan terhadap fluktuasi harga global, sehingga pelemahan rupiah semakin dalam.
Menambah kerumitan, Hans Kwee, co-founder PasarDana dan praktisi pasar modal, menunjuk pada penguatan dolar AS yang didorong oleh kenaikan imbal hasil obligasi global, khususnya US Treasury. Menurutnya, lonjakan yield US Treasury telah melampaui batas kewajaran, menarik investor global untuk memindahkan modal mereka ke instrumen keuangan AS yang dianggap lebih aman dan menguntungkan. "Yield US Treasury naiknya sudah berlebihan. Investor masuk ke obligasi AS sehingga dolar menguat. Itu yang menekan rupiah," jelas Hans Kwee. Tren ini menciptakan efek domino yang semakin menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Di sisi domestik, lonjakan harga minyak mentah global menghadirkan ancaman pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Ketidakpastian akibat konflik global yang belum mereda membuat investor asing mulai menarik dananya dari pasar domestik. Kekhawatiran akan stabilitas ekonomi Indonesia semakin menguat. Lebih lanjut, pernyataan kontroversial Presiden Prabowo Subianto pada Sabtu (16/5) lalu, yang menanggapi santai pelemahan rupiah dengan klaim tidak berdampak pada masyarakat desa, justru memperdalam jurang pelemahan. "Ini menjadi simalakama. Pernyataan Presiden Prabowo dijadikan alasan oleh investor di pasar untuk membeli dolar, sehingga rupiah terus melemah secara signifikan," ujar Ibrahim. Ia menilai, pernyataan tersebut belum memberikan arah yang jelas bagi investor mengenai penanganan krisis mata uang.
Ibrahim menekankan pentingnya langkah konkret dari pemerintah untuk meredam tekanan terhadap rupiah. "Seharusnya pemerintah memberikan solusi terkait kebutuhan impor minyak mentah yang tinggi, rencana implementasi B50 sebagai pendamping bahan bakar fosil, serta langkah konkret menghadapi krisis agar rupiah kembali menguat. Itu yang seharusnya dilakukan," tegasnya. Solusi yang komprehensif dan komunikasi yang jelas dari pemerintah sangat dibutuhkan untuk mengembalikan kepercayaan investor dan menstabilkan nilai tukar rupiah di tengah gejolak pasar global dan domestik. Kebijakan yang proaktif dan terarah diharapkan dapat menjadi jangkar bagi rupiah agar tidak terus terombang-ambing oleh sentimen negatif.











