RI-Rusia Perluas Kerja Sama Energi, Nuklir hingga EBT

Budi Santoso

RI-Rusia Perluas Kerja Sama Energi, Nuklir hingga EBT

Pemerintah Indonesia dan Federasi Rusia sepakat untuk memperluas kerja sama di sektor energi, mencakup pengembangan energi nuklir, gas alam cair (LNG), gas petroleum cair (LPG), hingga energi baru terbarukan (EBT). Penguatan kolaborasi strategis ini menjadi agenda utama dalam Sidang Komisi Bersama (SKB) ke-14 kedua negara yang berlangsung di Kazan, Rusia, pada Selasa, 12 Mei 2026. Pertemuan yang dihadiri oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bersama Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung dengan First Deputy Prime Minister Federasi Rusia Denis Manturov ini membahas berbagai tindak lanjut kerja sama ESDM. Diskusi mencakup rencana pembelian minyak, pengembangan ladang migas, serta proyek Grass Root Refinery (GRR) Tuban.

Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menyatakan bahwa kerja sama energi dengan Rusia telah menghasilkan berbagai komitmen investasi yang signifikan. Komitmen tersebut meliputi sektor hulu minyak dan gas bumi, kilang minyak, ketenagalistrikan berbasis energi baru dan terbarukan, serta rencana pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir modular kecil. Yuliot menambahkan bahwa penguatan kerja sama ini sejalan dengan prioritas pemerintah Indonesia dalam memperkuat ketahanan energi nasional, baik untuk pasokan bahan bakar minyak maupun kelistrikan. Pemerintah juga terus berupaya membuka peluang investasi dan transfer teknologi energi untuk mendukung target transisi energi nasional yang ambisius.

Rangkaian pembahasan dalam forum tersebut juga mencakup pengembangan bisnis LNG dan LPG, pemanfaatan energi nuklir untuk tujuan damai, hilirisasi dan metalurgi mineral, serta standardisasi industri migas dan energi. Seluruh hasil pembahasan ini akan dituangkan dalam dokumen Agreed Minutes sebagai bentuk tindak lanjut resmi dari kedua negara. Pemerintah Indonesia secara konsisten mendorong peningkatan kapasitas pembangkit listrik nasional melalui Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034. Dokumen ini menargetkan dominasi energi bersih dalam tambahan kapasitas pembangkit baru yang akan dibangun.

Baca Juga :  Shopee Beri Voucher Rp500 Ribu untuk Toko Produk Lokal

Dalam RUPTL 2025-2034, ditetapkan target tambahan kapasitas pembangkit sebesar 70 GW. Dari total tersebut, 40 GW ditargetkan berasal dari energi baru terbarukan, yang berarti mencapai 62 persen dari total tambahan kapasitas pembangkit baru. Selain itu, pemerintah juga memiliki target ambisius untuk pembangunan dua unit pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) dengan total kapasitas 500 MW. Pengembangan PLTN modular kecil ini diproyeksikan akan menjadi komponen penting dalam penguatan sistem ketahanan energi nasional di masa mendatang. Forum SKB RI-Rusia menjadi mekanisme resmi yang krusial bagi kedua negara untuk mengevaluasi dan memperluas cakupan kerja sama di berbagai sektor strategis. Keterlibatan Kementerian ESDM dalam forum ini memiliki tujuan ganda: memperkuat diplomasi energi Indonesia dan secara bersamaan mendukung upaya hilirisasi industri serta menarik investasi di sektor energi nasional. Kerja sama ini diharapkan dapat mempercepat pencapaian target ketahanan dan keberlanjutan energi Indonesia.

Also Read

Tinggalkan komentar