RI Percepat Hilirisasi Batu Bara Jadi DME di Tanjung Enim

Budi Santoso

RI Percepat Hilirisasi Batu Bara Jadi DME di Tanjung Enim

Pemerintah Indonesia tengah menggenjot pengembangan Dimethyl Ether (DME) sebagai strategi krusial dalam hilirisasi energi nasional, demi menekan angka impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) yang kian membengkak. Proyek ambisius ini berfokus pada fasilitas DME di Tanjung Enim, Sumatera Selatan, yang menjadi garda terdepan dalam agenda hilirisasi nasional fase kedua. Langkah ini diharapkan tidak hanya memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga memberikan nilai tambah signifikan bagi sumber daya alam domestik.

Rosan Roeslani, Kepala Danantara Indonesia, menekankan pentingnya pengembangan DME sebagai solusi strategis. "Pengolahan batu bara menjadi DME ini menjadi langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan impor LPG sekaligus menciptakan nilai tambah di dalam negeri," tegasnya dalam acara groundbreaking hilirisasi nasional di Cilacap pada Rabu, 29 April 2026. Pernyataan ini menggarisbawahi ironi bahwa sekitar 80 persen kebutuhan LPG nasional saat ini masih dipenuhi dari impor, membuat sektor energi rentan terhadap gejolak harga dan pasokan global.

Oleh karena itu, hilirisasi batu bara melalui produksi DME dipandang sebagai jawaban konkret atas persoalan struktural tersebut. Proyek ini bukan sekadar tentang substitusi impor, melainkan juga membuka gerbang industrialisasi baru yang berbasis pada kekayaan energi domestik. Proyek DME di Tanjung Enim ini merupakan inisiatif dari MIND ID melalui PT Bukit Asam Tbk, dengan target kapasitas produksi mencapai 1,4 juta ton per tahun. Jumlah tersebut dirancang untuk menggantikan kebutuhan LPG di pasar domestik secara langsung.

Baca Juga :  Trump Tolak Proposal Iran, Harga Minyak Meroket

Untuk mencapai target produksi tersebut, proyek ini membutuhkan pasokan batu bara sebesar 6,9 juta ton per tahun sebagai bahan baku utama. Dari sisi hulu, PT Bukit Asam memiliki kapasitas produksi yang sangat memadai. Pada tahun 2025, realisasi produksinya mencapai sekitar 47,19 juta ton, didukung oleh cadangan batu bara yang substansial sebesar 2,88 miliar ton dan sumber daya yang melimpah mencapai 5,72 miliar ton. Kesiapan pasokan bahan baku ini menjadi fondasi kuat bagi keberlangsungan proyek DME.

Pengembangan DME tidak hanya akan berdampak positif pada penguatan ketahanan energi, tetapi juga berkontribusi pada stabilitas pasokan dan harga energi secara nasional. Lebih jauh lagi, substitusi impor LPG akan menghasilkan penghematan devisa negara yang signifikan. Rosan menambahkan bahwa proyek ini lebih dari sekadar proyek energi, melainkan merupakan bagian integral dari transformasi ekonomi yang berakar pada pemanfaatan sumber daya domestik.

Dengan skala produksi yang masif dan dukungan penuh dari ekosistem Badan Usaha Milik Negara (BUMN), proyek DME Tanjung Enim diharapkan akan menjadi salah satu pilar utama dalam mewujudkan kemandirian energi nasional. Selain itu, proyek ini juga memiliki potensi besar untuk memperkuat struktur industri dalam negeri, menciptakan lapangan kerja baru, dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Transformasi energi dari batu bara menjadi DME ini menjadi simbol nyata bagaimana Indonesia dapat memanfaatkan sumber daya alamnya secara optimal untuk kepentingan bangsa.

Baca Juga :  PINTU Perluas Pilihan Aset Kripto Tertenosis Menjadi 48

Also Read

Tinggalkan komentar