RI-Filipina Perkuat Rantai Pasok Nikel Global

Budi Santoso

RI-Filipina Perkuat Rantai Pasok Nikel Global

Indonesia dan Filipina sepakat menjalin kerja sama strategis untuk memperkuat rantai pasok mineral kritis global, khususnya nikel. Kesepakatan ini diwujudkan melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) Strategic Nickel Industry Development Cooperation antara Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) dan Philippine Nickel Industry Association (PNIA). Penandatanganan dilakukan di sela-sela The 27th Meeting of the ASEAN Economic Community (AEC) Council and Related Meetings di Cebu, Filipina, dan disaksikan langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto serta Menteri Perdagangan dan Industri Filipina Hon. Maria Cristina A. Roque.

Airlangga Hartarto menyatakan bahwa kolaborasi ini menjadi fondasi bagi "Indonesia-Philippines Nickel Corridor," sebuah platform terstruktur yang menghubungkan kekuatan hilirisasi dan smelter Indonesia dengan pasokan bijih nikel hulu dari Filipina. Koridor ini diharapkan menjadi poros cadangan dan produksi nikel yang tak terpisahkan bagi dunia. Ruang lingkup kerja sama mencakup pertukaran informasi untuk stabilisasi perdagangan nikel regional dan global, pengembangan bersama teknologi hilirisasi nikel serta pemanfaatan nilai tambah produk sampingan, dan pengembangan sumber daya manusia bersama untuk mendukung ekosistem industri nikel yang berkelanjutan.

Data United States Geological Survey (USGS) 2026 menunjukkan bahwa Indonesia dan Filipina secara kolektif menguasai 73,6% produksi nikel global pada tahun 2025. Indonesia berkontribusi sekitar 66,7% (2,6 juta ton) dan Filipina menyumbang 6,9% (270 ribu ton). Dari sisi cadangan, Indonesia memiliki 44,5% cadangan nikel dunia (62 juta ton), sementara Filipina memiliki 3,4% (4,8 juta ton). Melalui kerja sama ini, Filipina akan terintegrasi ke dalam rantai nilai regional yang lebih tinggi, sedangkan Indonesia akan mendapatkan jaminan keamanan pasokan (feedstock security) untuk industri hulu baterai dan baja tahan karat.

Baca Juga :  BSI Raih Laba Rp2,2 T Kuartal I-2026, Tumbuh 17,1%

Airlangga menambahkan bahwa dengan adanya koridor nikel ini, Filipina tidak lagi hanya menjadi eksportir bijih mentah, yang sejalan dengan arahan KTT AECC ke-27 untuk memperkuat rantai pasok kritis di kawasan ASEAN. Indonesia saat ini memiliki ekosistem hilirisasi nikel yang masif, dengan nilai ekspor produk olahan nikel mencapai US$ 9,73 miliar pada 2025. Proyeksi investasi hilirisasi nikel ditargetkan mencapai US$ 47,36 miliar dan penyerapan 180.600 tenaga kerja pada tahun 2030. Smelter-smelter di Indonesia membutuhkan pasokan bijih yang stabil dengan rasio silikon terhadap magnesium yang tepat, yang dapat dipenuhi dari bijih nikel Filipina melalui proses blending.

Nikel merupakan mineral kritis yang memegang peranan sentral dalam transisi energi. Produk turunan nikel dapat diintegrasikan ke dalam strategi ketahanan energi nasional maupun kawasan melalui penguatan penyimpanan energi, baik untuk baterai kendaraan listrik (EV) maupun baterai untuk penyimpanan energi panel surya. Dengan demikian, hilirisasi nikel tidak hanya mendukung sektor industri, tetapi juga berkontribusi langsung terhadap bauran energi bersih dan berkelanjutan.

Also Read

Tinggalkan komentar