
Indonesia dan Belarusia telah menegaskan komitmen untuk memperdalam kerja sama ekonomi melalui penandatanganan Agreed Minutes Sidang Komisi Bersama (SKB) ke-8 dan serangkaian Memorandum of Understanding (MoU) antar pelaku usaha. Kesepakatan ini, yang bernilai total Rp 7 triliun, menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan bilateral kedua negara di berbagai sektor strategis.
Penandatanganan Agreed Minutes SKB ke-8 dilakukan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Deputi Perdana Menteri Belarusia Viktor Karankevich. Dokumen ini menandai kesepahaman untuk mengimplementasikan kerja sama ekonomi yang telah dibahas dalam SKB ke-8, memastikan setiap agenda dapat ditindaklanjuti secara sistematis, terarah, dan berorientasi pada hasil nyata. Airlangga Hartarto menekankan pentingnya kesepahaman ini diterjemahkan menjadi langkah konkret yang memberikan dampak langsung pada peningkatan hubungan ekonomi kedua negara.
Dalam rangkaian SKB ke-8, kedua negara telah mengeksplorasi berbagai bidang kerja sama, termasuk perdagangan, investasi, industri, pertanian dan ketahanan pangan, kehutanan, perbankan, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi, budaya, olahraga, serta pariwisata. Airlangga Hartarto memandang Agreed Minutes sebagai instrumen vital untuk mempercepat pelaksanaan kesepahaman dan mewujudkan proyek kerja sama yang konkret.
Deputi Perdana Menteri Belarusia Viktor Karankevich menyatakan komitmen negaranya untuk terus memperdalam kerja sama dengan Indonesia, khususnya di sektor industri, pertanian, dan teknologi. Ia juga membuka ruang kolaborasi yang lebih luas bagi dunia usaha kedua negara.
Secara paralel, lima MoU antar pelaku usaha dari Indonesia dan Belarusia berhasil ditandatangani, dengan nilai gabungan mencapai Rp 7 triliun. Salah satu penandatangan penting adalah antara PT Pupuk Indonesia (Persero) dengan Nedra Nezhin. Selain itu, PT Indonesia Belarus Jaya yang berada di bawah naungan Jaya Group, menandatangani empat MoU dengan perusahaan Belarusia: OJSC Minsk Dairy Plant No. 1, Energi Complekt, OJSC Dolomite, dan Belindo Trade.
CEO Jaya Group, Tomy Suhartanto, menegaskan bahwa pembentukan PT Indonesia Belarus Jaya merupakan wujud komitmen perusahaan untuk mendukung hubungan bilateral Indonesia-Belarusia melalui aksi nyata di sektor perdagangan dan industri. "Fokus dan concern kami adalah mendukung dan melakukan aksi nyata untuk kerja sama bilateral Indonesia dan Belarusia," ujar Tomy Suhartanto.
Kerja sama ini bertujuan mengoptimalkan potensi unggulan kedua negara. Indonesia memiliki komoditas seperti kakao dan kelapa sawit, sementara Belarusia menawarkan produk seperti susu, kabel dan kawat, serta pupuk yang dapat diserap pasar Indonesia. Tomy Suhartanto menekankan bahwa penandatanganan MoU ini tidak hanya untuk kepentingan bisnis, tetapi juga untuk mendukung agenda strategis pemerintah dalam memperkuat hubungan ekonomi internasional Indonesia, serta memberikan daya saing yang kompetitif bagi pasar Indonesia.
Tomy Suhartanto optimis bahwa hubungan ekonomi Indonesia-Belarusia akan terus bertumbuh. Ia melihat fondasi hubungan kedua negara yang telah terbangun sejak era Presiden Abdurrahman Wahid memiliki peluang besar untuk berkembang lebih optimal pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Dengan kesepakatan ini, diharapkan sinergi ekonomi antara Indonesia dan Belarusia akan semakin kokoh dan memberikan manfaat yang signifikan bagi kedua belah pihak.











