
Produksi padi nasional mencatatkan angka impresif sebesar 24,36 juta ton gabah kering giling (GKG) pada periode Januari hingga April 2026. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan sebesar 0,12 persen dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya. Peningkatan produksi padi ini secara otomatis berdampak pada produksi beras nasional yang juga ikut terangkat menjadi 14,03 juta ton. Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik Badan Pusat Statistik (BPS), Pudji Ismartini, menyampaikan kabar baik ini dalam konferensi pers di kantor BPS, Jakarta, pada Selasa (2/6/2026).
Meskipun terdapat penurunan produksi padi secara bulanan pada bulan April 2026, capaian kumulatif selama empat bulan pertama tahun ini tetap menunjukkan tren positif. BPS mencatat bahwa luas panen padi pada Januari-April 2026 mencapai 4,51 juta hektare, yang berarti ada kenaikan sebesar 0,43 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Namun, data spesifik untuk bulan April 2026 menunjukkan penurunan luas panen padi sebesar 15,47 persen dibandingkan April 2025, yang berujung pada penurunan produksi padi sebesar 16,03 persen menjadi 7,63 juta ton GKG dari 9,09 juta ton GKG pada April tahun sebelumnya.
Memasuki periode Mei-Juli 2026, BPS memperkirakan potensi luas panen padi akan mencapai 2,69 juta hektare, sedikit menurun 0,65 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Potensi produksi padi pada periode ini diprediksi akan mencapai 13,75 juta ton GKG, atau turun 1,14 persen, dengan produksi beras diperkirakan turun 1,16 persen menjadi 7,92 juta ton.
Di luar komoditas padi, produksi jagung juga menunjukkan sedikit pertumbuhan. Produksi jagung pipilan kering kadar air 14 persen (JPK KA 14 persen) sepanjang Januari-April 2026 mencapai 6,02 juta ton, naik tipis 0,01 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kabar baik juga datang dari sektor kesejahteraan petani. Nilai Tukar Petani (NTP) nasional pada Mei 2026 tercatat sebesar 127,73, menunjukkan peningkatan sebesar 1,99 persen dibandingkan bulan April 2026. Kenaikan NTP ini didorong oleh peningkatan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) sebesar 2,53 persen, yang lebih tinggi dibandingkan kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) sebesar 0,53 persen. Selain itu, Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) di Indonesia pada Mei 2026 juga mengalami kenaikan sebesar 0,48 persen. Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) nasional pada Mei 2026 pun menunjukkan tren positif dengan mencapai 132,84, naik 1,95 persen dari bulan sebelumnya.
Meskipun demikian, harga beras di tingkat penggilingan masih menunjukkan tren kenaikan. Harga beras premium tercatat Rp14.667 per kilogram, naik 0,56 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara itu, harga beras medium meningkat 0,79 persen menjadi Rp13.402 per kilogram. Kenaikan harga beras ini perlu dicermati lebih lanjut dalam upaya menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan nasional.











