
Di tengah hamparan persawahan Desa Jamus, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, geliat buruh tani yang sedang memisahkan gabah bernas dari sekam menggunakan mesin pengembus padi menjadi simbol optimisme pangan nasional pada awal April 2026. Aktivitas pasca-panen ini selaras dengan laporan terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan tren positif pada produktivitas padi nasional. Berdasarkan data yang dirilis per 1 April 2026, luas panen padi nasional pada Februari 2026 tercatat menyentuh angka 0,94 juta hektare. Capaian tersebut menghasilkan proyeksi produksi beras untuk konsumsi sebesar 2,91 juta ton, sebuah lompatan signifikan yang memperkuat cadangan pangan dalam negeri.
Peningkatan luas panen sebesar 0,18 juta hektare atau setara dengan 23,62 persen dibandingkan Februari 2025 yang hanya seluas 0,76 juta hektare, memberikan angin segar bagi stabilitas harga dan pasokan beras. Namun, di balik angka pertumbuhan yang menggembirakan tersebut, pemerintah tetap mewaspadai tantangan perubahan iklim yang mulai membayangi. Kementerian Pertanian kini tengah bersiap menghadapi potensi fenomena El Nino yang diperkirakan akan memicu kekeringan ekstrem di berbagai wilayah Indonesia. Sebagai langkah antisipasi, pemerintah secara masif menyiapkan program pompanisasi untuk menjaga agar produksi pangan tetap stabil meski curah hujan berkurang.
Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) sekaligus Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, mengungkapkan bahwa langkah mitigasi telah dilakukan dengan melibatkan ratusan kepala daerah. Sebanyak 300 bupati dan sejumlah gubernur telah dikonsolidasikan di kantor Kementerian Pertanian untuk menyamakan persepsi dalam menghadapi ancaman yang dijuluki sebagai "El Nino Godzilla". Program pompanisasi ini difokuskan pada lahan-lahan sawah tadah hujan agar petani tetap memiliki akses air yang cukup untuk melanjutkan masa tanam berikutnya, sehingga tidak terjadi kekosongan produksi selama musim kemarau panjang.
Saat ini, kondisi cuaca di beberapa wilayah strategis seperti Sumatera Selatan, Jambi, hingga Kalimantan dilaporkan masih memiliki curah hujan yang cukup baik. Momentum ini dimanfaatkan oleh pemerintah untuk mendorong petani melakukan percepatan tanam segera setelah panen usai. Dengan memanfaatkan sisa kelembapan tanah dan dukungan infrastruktur pompa, diharapkan kesinambungan produksi beras tetap terjaga sebelum puncak musim kering tiba. Meskipun dampak El Nino belum terlihat secara signifikan di lapangan, pemerintah menegaskan bahwa kewaspadaan dini adalah kunci utama untuk menjamin kedaulatan pangan nasional dan melindungi kesejahteraan para petani di seluruh pelosok negeri.











