
Presiden Prabowo Subianto menuai kritik karena frekuensi kunjungan kerja ke luar negeri yang dinilai tinggi, terutama di tengah pelemahan nilai tukar rupiah. Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal menjadi salah satu pihak yang menyuarakan keprihatinan tersebut. Ia menyoroti bahwa Prabowo menjadi kepala negara dengan jadwal perjalanan luar negeri terbanyak, menghabiskan sekitar satu dari enam hari masa jabatannya di luar negeri. Dino Patti Djalal menekankan bahwa setiap kunjungan kenegaraan ke luar negeri membutuhkan anggaran yang sangat besar, mencakup biaya rombongan, transportasi, akomodasi, logistik, konsumsi, protokoler, pengamanan, hingga uang harian delegasi. Ia memperkirakan satu perjalanan luar negeri bisa memakan biaya puluhan hingga ratusan miliar rupiah.
Menanggapi kritik tersebut, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah M. Qodari mengapresiasi masukan dari Dino Patti Djalal. Namun, Qodari menegaskan bahwa setiap kunjungan kerja Prabowo ke luar negeri selalu dilandasi oleh asas manfaat bagi bangsa dan negara. Ia mencontohkan kunjungan kerja ke Prancis yang baru-baru ini dilakukan. Menurut Qodari, kunjungan tersebut telah direncanakan sejak lama dan membahas berbagai kerja sama strategis di bidang pertahanan, pendidikan, dan energi. Pembahasan mencakup pengadaan alutsista hingga logam jarang. Qodari menambahkan bahwa kunjungan kerja ini juga bertujuan untuk mempererat hubungan antar pemimpin negara, yang pada gilirannya dapat membantu Indonesia memperoleh dukungan dalam isu-isu strategis.
Dalam video yang diunggahnya di akun X/Twitter, Dino Patti Djalal memberikan lima saran kepada Presiden Prabowo untuk menjalin hubungan antarnegara. Pertama, ia menyarankan penggunaan teknologi seperti video call, Zoom, atau telepon untuk komunikasi. Kedua, memanfaatkan forum internasional yang dihadiri kepala negara lain untuk melakukan pertemuan, guna menghemat anggaran. Ketiga, kunjungan internasional harus dilakukan secara profesional dan terencana dengan baik. Keempat, Dino Patti Djalal mengusulkan agar selama satu tahun ke depan, Presiden Prabowo lebih banyak menerima tamu negara di tanah air daripada melakukan perjalanan ke luar negeri, mencontoh praktik Presiden Tiongkok Xi Jinping. Kelima, ia mengusulkan agar sebagian besar misi diplomatik yang bersifat taktis dapat didelegasikan kepada Menteri Luar Negeri.











