
Presiden Prabowo Subianto menggelar pertemuan penting dengan perwakilan Rosatom, perusahaan energi nuklir negara Rusia, di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, pada Selasa, 12 Mei 2026. Direktur Jenderal Rosatom, Alexey Likhachev, hadir langsung dalam audiensi yang membahas berbagai aspek kerja sama bilateral antara Rusia dan Indonesia dalam pemanfaatan energi nuklir untuk tujuan damai. Diskusi mencakup pengembangan proyek pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN), pembangunan infrastruktur nuklir yang komprehensif, pelatihan personel nasional yang kompeten, hingga aplikasi teknologi nuklir di luar sektor energi.
Alexey Likhachev menekankan pentingnya dialog nuklir yang dilandasi rasa saling percaya dan menghormati, seiring dengan ambisi besar Indonesia dalam mengembangkan energi nuklir. Rosatom tidak hanya menawarkan teknologi mutakhir, tetapi juga komitmen untuk membangun kemitraan jangka panjang. Kemitraan ini bertujuan untuk mendorong terciptanya industri baru di Indonesia, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan intensif, serta memperkuat kedaulatan teknologi nasional. Rosatom siap memberikan solusi terpadu, mulai dari PLTN skala besar hingga proyek yang memanfaatkan reaktor modular kecil dan unit pembangkit listrik terapung, yang dirancang khusus untuk mengatasi tantangan geografis Indonesia sebagai negara kepulauan.
Pertemuan ini merupakan kelanjutan dari serangkaian dialog intensif yang telah terjalin. Sebelumnya, perwakilan Rosatom, dipimpin oleh First Deputy CEO Kirill Komarov, telah bertemu dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Rusia pada awal April 2026. Kepala BRIN, Arif Satria, bersama jajarannya, mendiskusikan langkah-langkah konkret untuk mempercepat transisi energi berkelanjutan melalui pemanfaatan energi nuklir. Diskusi tersebut juga mencakup penjajakan kolaborasi teknis dan pengembangan infrastruktur PLTN di Indonesia. Arif Satria menegaskan bahwa kerja sama dengan Rosatom bukan sekadar pertemuan formal, melainkan upaya serius untuk menghadirkan energi masa depan yang stabil dan bersih bagi seluruh rakyat Indonesia.
Arif Satria memandang Rusia, sebagai pemain utama industri nuklir global dengan rekam jejak yang mumpuni, sebagai mitra strategis bagi Indonesia untuk mengakselerasi pengembangan energi nuklir. Ia menekankan pentingnya memanfaatkan pengalaman panjang Rusia dalam mengelola energi nuklir melalui skema kemitraan yang setara. Fokus utama BRIN adalah memperkuat kapasitas riset dan inovasi lokal, sehingga ekosistem nuklir Indonesia tidak hanya aman dan andal, tetapi juga berkelanjutan berkat pengelolaan oleh talenta-talenta terbaik bangsa. Orientasi kerja sama dengan Rosatom tidak terbatas pada pengadaan infrastruktur fisik, melainkan juga mencakup pembangunan ekosistem riset yang menyeluruh, dengan penekanan pada transfer teknologi yang masif untuk memastikan kemandirian bangsa di masa depan.
Tahun 2026 menandai 20 tahun Perjanjian Antar Pemerintah tentang Kerja Sama dalam Penggunaan Energi Atom Secara Damai antara Rusia dan Indonesia, yang ditandatangani pada 1 Desember 2006. Perjanjian ini menjadi fondasi penting bagi kerja sama bilateral di sektor nuklir, yang kini semakin diperkuat melalui dialog strategis di berbagai tingkatan.











