PMI Manufaktur RI Mei 2026 Naik, Ekspansi Kembali Terjadi

Budi Santoso

PMI Manufaktur RI Mei 2026 Naik, Ekspansi Kembali Terjadi

Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia melonjak ke angka 50,0 pada Mei 2026, melampaui capaian April 2026 sebesar 49,1. Peningkatan ini mengindikasikan kembalinya sektor manufaktur nasional ke zona ekspansi setelah sempat mengalami kontraksi ringan. Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menekankan bahwa kenaikan PMI ini mencerminkan daya tahan industri nasional dalam menghadapi berbagai tantangan global, termasuk gangguan rantai pasok dan ketidakpastian pasokan bahan baku impor.

Menurut Menteri Agus, para pelaku industri telah mengambil langkah antisipatif dengan memperkuat stok bahan baku guna memastikan kelangsungan produksi dalam beberapa bulan mendatang. Kebijakan ini menjadi krusial mengingat mayoritas impor Indonesia terdiri dari bahan baku dan bahan penolong. Dalam menghadapi tantangan logistik global dan potensi kenaikan harga, perusahaan manufaktur memilih untuk meningkatkan cadangan bahan baku dari rata-rata tiga bulan menjadi enam bulan.

Langkah ini sangat penting bagi industri dengan proses produksi berkelanjutan, seperti industri petrokimia, keramik, kaca, dan pengolahan nikel. Penghentian total fasilitas produksi, terutama yang menggunakan furnace, dapat memakan waktu lama untuk kembali ke kapasitas normal, sehingga ketersediaan bahan baku menjadi prioritas utama. Selain itu, peningkatan stok bahan baku juga merupakan strategi untuk mengantisipasi potensi kenaikan harga di masa mendatang, mengingat penyesuaian harga jual produk tidak dapat dilakukan secara instan.

Peningkatan PMI manufaktur pada Mei 2026 sejalan dengan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang juga menunjukkan kinerja positif, naik menjadi 53,56 dari 51,75 pada April 2026. Kenaikan IKI ini mengindikasikan optimisme pelaku industri terhadap kondisi usaha dan prospek permintaan domestik yang terus membaik. Kombinasi kenaikan PMI dan IKI menjadi sinyal kuat bahwa sektor manufaktur nasional memiliki resiliensi yang tangguh dalam menjaga aktivitas produksi sekaligus mengantisipasi risiko eksternal.

Baca Juga :  OJK: Rebalancing MSCI Beri Dampak Jangka Pendek, Optimis Jangka Panjang

Laporan S&P Global menyebutkan bahwa peningkatan permintaan baru, khususnya dari pasar domestik, turut mendorong PMI manufaktur Indonesia. Meskipun demikian, tekanan biaya produksi dan gangguan pasokan bahan baku tetap menjadi tantangan utama yang dihadapi sektor ini. Kementerian Perindustrian berkomitmen untuk terus memperkuat koordinasi dengan para pelaku industri guna memastikan kelancaran pasokan bahan baku, menjaga keberlangsungan produksi, serta meningkatkan daya saing manufaktur Indonesia di tengah dinamika perekonomian global.

Also Read

Tinggalkan komentar