
Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal memberikan peringatan serius mengenai potensi gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang diperkirakan akan melanda Indonesia dalam kurun waktu tiga bulan ke depan. Ancaman PHK ini diperkirakan akan paling terasa dampaknya di sektor tekstil dan produk tekstil (TPT), mencakup seluruh rantai produksinya mulai dari benang, kain, hingga polyester. Informasi ini diperoleh dari laporan langsung serikat pekerja di berbagai perusahaan yang mengindikasikan adanya diskusi internal mengenai potensi pengurangan tenaga kerja sebagai respons terhadap ketegangan global, khususnya perang di Timur Tengah. Said Iqbal menjelaskan bahwa laporan ini berasal dari anggota KSPI langsung di lapangan, bukan dari sumber sekunder.
Sektor industri kedua yang juga berpotensi besar melakukan PHK adalah industri plastik. Tekanan terhadap sektor ini timbul akibat lonjakan harga bahan baku impor yang signifikan. Kenaikan harga bahan baku plastik ini sangat dipengaruhi oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Impor bahan baku plastik, seperti polimer dan petrokimia, yang harus dibayar dengan dolar AS, menjadi semakin mahal ketika rupiah terdepresiasi. Hal ini menyebabkan biaya produksi melonjak drastis, memaksa perusahaan untuk menaikkan harga jual produk plastik. Kenaikan harga plastik ini, menurut Said Iqbal, berdampak langsung pada penurunan daya beli masyarakat. Ia mencontohkan fenomena ibu-ibu pedagang di pasar yang beralih dari penggunaan kantong plastik menjadi daun untuk membungkus barang dagangannya, sebagai indikasi nyata penurunan permintaan produk plastik. Penurunan permintaan ini pada akhirnya berpotensi memicu PHK di industri plastik.
Lebih lanjut, Said Iqbal menggarisbawahi bahwa dampak negatif dari kenaikan harga plastik dapat merembet ke sektor industri lain yang sangat bergantung pada komponen plastik, seperti industri elektronik dan otomotif. Di industri elektronik, komponen seperti bingkai (frame) perangkat banyak terbuat dari plastik. Sementara itu, di industri otomotif, komponen seperti spakbor dan berbagai bagian lainnya juga menggunakan bahan plastik. Kenaikan harga plastik tentu akan membebani biaya produksi kedua sektor ini. Oleh karena itu, Said Iqbal menyuarakan harapan agar ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya antara Israel dan Amerika Serikat melawan Iran, dapat segera mereda dan tercapai perdamaian. Ia mengakui bahwa penyelesaian masalah ini tidaklah mudah, namun perdamaian akan sangat membantu dalam menstabilkan harga bahan baku plastik.
Selain sektor TPT dan plastik, industri semen juga menghadapi tantangan serius yang berpotensi memicu PHK. Sektor ini sedang mengalami kelebihan pasokan (oversupply). Di tengah situasi perang global yang cenderung menurunkan permintaan terhadap bahan bangunan, masuknya pabrik-pabrik semen baru justru semakin memperketat persaingan. Pemberian izin operasional kepada pabrik-pabrik baru ini, meskipun menambah kapasitas produksi, justru semakin menekan harga dan memaksa perusahaan untuk melakukan efisiensi tenaga kerja demi menjaga kelangsungan bisnis. Penurunan permintaan semen akibat ketidakpastian ekonomi global yang diperparah oleh situasi perang, ditambah dengan persaingan yang semakin ketat akibat oversupply, secara otomatis akan mendorong perusahaan untuk melakukan efisiensi, yang salah satunya berujung pada PHK terhadap buruh dan pekerja.
Menanggapi situasi yang semakin mengkhawatirkan ini, Said Iqbal menyatakan bahwa hingga saat ini, buruh belum menerima respons resmi dari pemerintah terkait ancaman PHK massal ini. Belum ada pula rencana diskusi yang konkret antara pemerintah dan serikat pekerja untuk membahas langkah-langkah mitigasi guna mencegah terjadinya PHK berskala besar di sektor-sektor yang terancam tersebut.











