
Perlambatan aktivitas industri nikel mulai berdampak signifikan pada denyut ekonomi di berbagai kawasan tambang di Indonesia. Pelaku usaha lokal, mulai dari pedagang kecil hingga masyarakat yang berada di lingkar tambang, merasakan penurunan aktivitas ekonomi seiring dengan melambatnya operasi smelter dan pertambangan. Ihwan Kadir, Pendiri Poros Musyawarah Masyarakat Blok Lapaopao (PORMMAL), menyoroti bahwa dinamika hilirisasi nikel, yang digadang-gadang sebagai motor penggerak ekonomi, kini justru membawa konsekuensi ekonomi yang berat di tingkat daerah. Perubahan kebijakan produksi serta tekanan pasar global menjadi faktor utama yang memengaruhi aktivitas industri di lapangan.
Menurut Ihwan, perlambatan industri nikel tidak hanya dirasakan oleh perusahaan, tetapi juga secara langsung memukul ekonomi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan tambang. Aktivitas perdagangan, mulai dari warung makan hingga kios-kios kecil, dilaporkan mengalami penurunan omzet yang drastis. Para kontraktor lokal kehilangan ritme kerja, dan sopir angkutan barang (hauling) mulai merasa cemas kendaraan mereka akan berhenti beroperasi. "Pedagang kecil mulai mengeluh omzet turun, kontraktor lokal mulai kehilangan ritme kerja, sopir hauling mulai takut kendaraan mereka berhenti beroperasi, warung-warung mulai sepi, dan masyarakat mulai bertanya: kalau industri melambat, kami harus makan apa?" ungkap Ihwan dalam keterangannya pada Jumat (15/5/2026).
Dampak perlambatan ini sangat terasa di Morowali Utara, di mana aktivitas smelter yang melambat telah memberikan pukulan nyata terhadap ekonomi lokal. Sejumlah kios menghadapi ancaman tutup akibat stagnasi aktivitas kontraktor tambang dan meningkatnya ketidakpastian pekerjaan. Lebih memprihatinkan lagi, di Kolaka, Sulawesi Tenggara, ratusan masyarakat adat bahkan terpaksa turun melakukan aksi unjuk rasa menuntut agar aktivitas tambang kembali berjalan. Mereka berargumen bahwa ekonomi warga ikut lumpuh saat operasi pertambangan berhenti.
Tekanan industri nikel juga mulai merambah ke berbagai wilayah Sulawesi lainnya. Fluktuasi harga komoditas nikel di pasar global, ditambah dengan melemahnya permintaan global, memperbesar risiko pemutusan hubungan kerja di sektor tambang dan pengolahan. "Sekarang, pemerintah justru bicara tentang pemangkasan produksi nasional demi menjaga harga global," imbuh Ihwan, menunjukkan adanya kebijakan yang dinilai kurang mempertimbangkan dampak sosial ekonomi di lapangan.
Ihwan menekankan bahwa kebijakan pengaturan produksi, termasuk perubahan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB), perlu mempertimbangkan dampak sosial ekonomi di kawasan tambang. Perubahan administratif ini memiliki kaitan langsung dengan keberlangsungan ekonomi masyarakat lokal. "Tetapi di lingkar tambang, itu berarti cicilan motor terancam macet, anak sekolah bisa berhenti kuliah, rumah makan kehilangan pelanggan, dan ekonomi desa bisa lumpuh perlahan," tegasnya.
Selain masyarakat, perusahaan penanaman modal dalam negeri (PMDN) juga menghadapi tekanan yang lebih besar di tengah perlambatan industri nikel. Ihwan mencontohkan Ceria Group melalui proyek Smelter Merah Putih di Kolaka sebagai perusahaan nasional yang berjuang keras mempertahankan operasionalnya di tengah kondisi pasar yang menantang. Ia membandingkan kondisi ini dengan perusahaan asing yang umumnya memiliki dukungan modal global, akses pembiayaan internasional, dan jaringan rantai pasok lintas negara yang memberikan daya tahan lebih kuat terhadap tekanan industri.
Sebaliknya, perusahaan nasional sangat membutuhkan kepastian kebijakan dan dukungan ekosistem industri agar mampu bertahan sekaligus menjaga lapangan kerja di daerah tambang. "Nasionalisme sejati itu bukan sekadar melarang ekspor mentah. Nasionalisme sejati adalah memastikan anak bangsa tidak tumbang lebih dulu di rumahnya sendiri," kata Ihwan, menyerukan pentingnya perlindungan bagi industri dalam negeri.
Ihwan mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara strategi hilirisasi nasional yang ambisius dengan stabilitas ekonomi masyarakat di kawasan tambang. Tujuannya adalah agar manfaat industri nikel dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh seluruh elemen bangsa, bukan hanya menjadi keuntungan segelintir pihak.











