
Permata Bank menyoroti bahwa peringatan dari MSCI dan lembaga pemeringkat internasional kini menjadi sinyal penting yang memengaruhi kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia. Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, menjelaskan bahwa arus keluar dana asing dari pasar saham dan obligasi Indonesia dalam beberapa bulan terakhir tidak hanya disebabkan oleh faktor eksternal seperti penguatan dolar AS dan kenaikan harga minyak dunia. Pasar juga secara aktif memantau isu-isu krusial lainnya, termasuk tingkat transparansi pasar keuangan, kredibilitas kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah, serta ruang fiskal yang tersedia bagi perekonomian nasional.
Josua mengingatkan kembali akan adanya peringatan sebelumnya dari MSCI yang secara spesifik menyoroti isu transparansi kepemilikan asing, jumlah saham yang beredar di pasar, dan potensi perubahan status pasar Indonesia. Fenomena ini, menurut Josua, memiliki dampak signifikan terhadap persepsi investor global terhadap aset-aset keuangan yang diterbitkan oleh Indonesia. Lebih lanjut, hal ini juga berkontribusi pada peningkatan risk premium di pasar domestik, yang secara implisit berarti investor menuntut imbal hasil yang lebih tinggi untuk mengkompensasi risiko yang mereka anggap meningkat.
Analisis Permata Bank mencatat bahwa sejak awal tahun hingga bulan April 2026, terjadi arus keluar modal (capital outflow) yang cukup signifikan dari pasar saham domestik, dengan perkiraan mencapai sekitar 2,2 miliar dolar AS. Sementara itu, dari pasar obligasi, dana asing yang ditarik keluar tercatat mencapai hampir 0,7 miliar dolar AS. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah pun semakin terasa, dengan pelemahan yang terus berlanjut hingga berada di kisaran Rp 17.500 per dolar Amerika Serikat.
Meskipun demikian, Josua menekankan bahwa kondisi rupiah saat ini tidak dapat disamakan dengan periode krisis moneter yang melanda Indonesia pada tahun 1998. Ia menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih kuat dan stabil dibandingkan dengan era krisis tersebut. Menurut pandangannya, tekanan yang dihadapi rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen global. Faktor-faktor global utama yang berperan adalah tingginya harga minyak dunia yang terus berfluktuasi dan meningkatnya permintaan terhadap dolar AS di pasar internasional. Perbedaan fundamental ekonomi ini memberikan keyakinan bahwa gejolak yang terjadi saat ini lebih bersifat sementara dan dapat dikelola oleh pemerintah dengan kebijakan yang tepat.











