Perang Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Energi Global

Budi Santoso

Perang Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Energi Global

Konflik geopolitik di Timur Tengah telah memicu tekanan besar pada pasar energi global, menyebabkan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), Liquefied Petroleum Gas (LPG), hingga Liquefied Natural Gas (LNG) di berbagai negara. Direktur Eksekutif Reforminer Institute, Komaidi Notonegoro, menekankan bahwa energi merupakan kebutuhan dasar kehidupan yang harus diamankan oleh negara, terutama saat krisis, bersama dengan pangan. Kenaikan harga energi saat ini bersifat non-fundamental, diperparah oleh gangguan jalur distribusi global akibat penutupan Selat Hormuz. Situasi ini membuat harga minyak melonjak melebihi nilai seharusnya, berdampak langsung pada produk gas seperti LPG dan LNG.

Di Indonesia, penyesuaian harga LPG industri non-subsidi 50 kg telah dilakukan, mengikuti tren global berbasis CP Aramco. Harga LPG industri melonjak 25-26%, dari sekitar US$ 21,9 per MMBtu menjadi US$ 28,3 per MMBtu. Dalam rupiah, harga tabung LPG 50 kg meningkat dari sekitar Rp 850 ribu menjadi Rp 1,06 juta per tabung pada Mei 2026. BBM nonsubsidi di dalam negeri juga mengalami penyesuaian harga, mengikuti dinamika pasar dan biaya energi global. Solar industri nonsubsidi mengalami kenaikan signifikan sekitar 77-84%, dari US$ 22,7 per MMBtu menjadi US$ 43 per MMBtu. Dalam rupiah, harga solar industri melonjak dari kisaran Rp 14.200-14.500 per liter menjadi sekitar Rp 26.000-27.900 per liter.

Lembaga energi internasional memproyeksikan peningkatan harga energi regional jika terjadi gangguan distribusi atau eskalasi konflik global. Hal ini mendorong banyak negara memperkuat strategi ketahanan energi mereka melalui diversifikasi sumber, penguatan infrastruktur, dan penyesuaian kebijakan domestik. Komaidi menilai penyesuaian harga, yang telah direalisasikan oleh mayoritas negara, sangat perlu dilakukan untuk BBM, LPG, dan LNG. Pasar energi Asia diprediksi masih menghadapi volatilitas tinggi sepanjang 2026. Negara-negara ASEAN seperti Vietnam, Filipina, dan Singapura juga mulai menyesuaikan strategi energi mereka. Vietnam kini bergantung pada pasokan LNG dengan harga pasar spot Asia yang mencapai sekitar US$ 27,81 per MMBtu. Filipina mencatat harga LNG sekitar US$ 28,50 per MMBtu, sementara Singapura sebagai hub regional memiliki harga gas untuk sektor bulk industri sekitar US$ 40,12 per MMBtu dan untuk sektor retail umum sekitar US$ 47,54 per MMBtu.

Baca Juga :  Ekonomi Iran Terpuruk Imbas Perang, Butuh Lebih dari 1 Dekade buat Pulih

Kenaikan harga energi ini meluas di kawasan ASEAN, termasuk negara berkembang yang semakin bergantung pada pasokan LNG dan dinamika pasar global. Indeks harga spot LNG Asia (JKM) dan acuan kontrak LNG jangka panjang (JCC) melonjak bersamaan sepanjang 2026, masing-masing naik 111% dan 97%. Kenaikan ini turut mendorong Indonesian Crude Price (ICP) yang ditetapkan pemerintah, yang pada April 2026 naik sekitar 99% dari rencana awal tahun. Komaidi mendorong penyesuaian harga energi, terutama non-subsidi seperti LNG, segera dilakukan di dalam negeri untuk menjaga tingkat harga yang sehat dan rasional sesuai keekonomian energi global.

Also Read

Tinggalkan komentar