Perang Iran-AS Picu Tekanan Ekonomi RI

Budi Santoso

Perang Iran-AS Picu Tekanan Ekonomi RI

Institute for Development of Economics and Finance (Indef) memperingatkan eskalasi konflik antara Israel-AS dan Iran telah mulai memberikan tekanan signifikan terhadap perekonomian Indonesia. Dampak utama yang diantisipasi mencakup lonjakan harga energi global, pelemahan nilai tukar rupiah, serta penurunan daya beli masyarakat. Rizal Taufikurrahman, Kepala Center of Macroeconomics and Finance Indef, menjelaskan bahwa gejolak eksternal ini mulai merambat ke dalam negeri, terutama melalui kenaikan harga energi dan pangan. Hal ini berpotensi menekan konsumsi rumah tangga, yang selama ini menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi.

Menurut Rizal, daya beli masyarakat tergerus akibat kenaikan harga energi dan pangan, dengan kelompok menengah ke bawah merasakan dampaknya paling besar. Dalam skenario eskalasi konflik yang tinggi, konsumsi riil diprediksi bisa terkontraksi hingga 0,21 persen. Tekanan inflasi yang terjadi bersifat cost-push, yaitu kenaikan harga yang tidak diimbangi dengan peningkatan pendapatan. Meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan masih berada di kisaran lima persen, kenaikan biaya energi dan logistik mulai membebani berbagai sektor, termasuk pangan, industri pengolahan, transportasi, dan jasa.

Indef Ingatkan Dampak Perang AS-Iran bagi Ekonomi Indonesia | Republika Online

Selain itu, sektor fiskal juga menghadapi tekanan yang kian besar. Lonjakan harga minyak global diproyeksikan akan meningkatkan beban subsidi energi. Meskipun subsidi ini dapat menahan laju inflasi dalam jangka pendek, dalam jangka menengah, hal tersebut berisiko mempersempit ruang fiskal pemerintah. Eko Listiyanto, Direktur Pengembangan Big Data Indef, menyoroti gangguan di Selat Hormuz sebagai salah satu faktor utama peningkatan risiko global. Jalur vital ini dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia, sehingga ketidakstabilan di kawasan tersebut dapat berdampak luas pada ekonomi global, termasuk Indonesia.

Baca Juga :  RUPST Bank Jago Setujui Laporan 2025, Laba Naik 115%

Tekanan terhadap Indonesia masuk melalui dua jalur utama: pertama, secara langsung melalui kenaikan harga minyak dunia yang terus merangkak naik hingga mencapai sekitar 108 dolar AS per barel; kedua, secara tidak langsung melalui perlambatan ekonomi mitra dagang dan gangguan pada rantai pasok global. Eko menambahkan bahwa tekanan ini juga mulai terlihat di pasar keuangan, meliputi potensi capital outflow, peningkatan cost of fund, dan perlambatan pertumbuhan kredit. Dalam kondisi yang kompleks ini, pemerintah dihadapkan pada tantangan besar untuk menjaga stabilitas harga, stabilitas fiskal, serta daya beli masyarakat. Kenaikan biaya energi dan logistik secara umum telah menjadi ancaman serius bagi berbagai sektor ekonomi yang bergantung pada stabilitas harga komoditas dan efisiensi rantai distribusi. Ke depan, diperlukan langkah-langkah kebijakan yang tepat untuk meredam dampak negatif dari gejolak global ini agar pertumbuhan ekonomi tetap terjaga dan kesejahteraan masyarakat tidak terganggu secara signifikan.

Also Read

Tinggalkan komentar