
Harga berbagai perlengkapan rumah tangga atau perabot di Pasar Jatinegara, Jakarta Timur, dilaporkan mengalami lonjakan tajam dalam sebulan terakhir. Kenaikan signifikan ini, menurut para pedagang, merupakan imbas dari berbagai faktor kompleks, termasuk gangguan rantai pasok global dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang kini menembus kisaran Rp 17.600-an per dolar. Anggi, seorang pedagang perabot yang telah beroperasi selama 14 tahun di Pasar Jatinegara, menyatakan bahwa perubahan harga sangat bervariasi tergantung pada jenis barang dan bahan bakunya, dengan produk berbahan plastik menunjukkan kenaikan paling drastis.
Contoh konkret kenaikan harga yang diungkapkan Anggi meliputi panci aluminium yang sebelumnya dijual seharga Rp 100.000 kini melonjak menjadi Rp 135.000. Demikian pula, gelas kaca yang tadinya dibanderol Rp 30.000 kini harus ditebus dengan harga Rp 40.000. Namun, kenaikan paling mengkhawatirkan terjadi pada barang-barang berbahan plastik. Gelas plastik yang umumnya hanya berharga Rp 10.000 kini melambung hingga Rp 25.000, mengalami kenaikan lebih dari dua kali lipat. Box plastik yang sebelumnya seharga Rp 80.000 kini dijual antara Rp 120.000 hingga Rp 130.000, sementara toples kerupuk yang biasa dibeli dengan Rp 10.000 kini harganya mencapai Rp 20.000.
Anggi menambahkan bahwa lonjakan harga kali ini merupakan yang tertinggi sepanjang karirnya berdagang. Ia membandingkan dengan kenaikan harga di masa lalu yang biasanya bersifat sementara, dipicu oleh lonjakan permintaan musiman dan hanya berkisar antara Rp 3.000 hingga Rp 5.000, sebelum akhirnya kembali stabil. Kenaikan kali ini terasa berbeda, seolah-olah terjadi "ganti harga" secara fundamental.
Yang menarik, fenomena ini justru terjadi pada produk-produk buatan dalam negeri. Sebaliknya, perabot impor yang sebagian besar berasal dari Tiongkok menunjukkan stabilitas harga yang relatif. Produk impor dari Tiongkok hanya mengalami kenaikan tipis sekitar Rp 5.000 per produk. Anggi mencontohkan panci stainless steel impor dari Tiongkok yang sebelumnya seharga Rp 100.000 kini naik menjadi Rp 105.000, dan teko listrik yang dari Rp 65.000 menjadi Rp 70.000. Hal ini kontras dengan panci aluminium buatan dalam negeri yang mengalami kenaikan "gila-gilaan" hingga harganya kini melampaui stainless steel impor.
Menurut pedagang, stabilitas harga produk Tiongkok disebabkan oleh fakta bahwa bahan baku impor mereka masih relatif stabil dan hanya terpengaruh oleh kenaikan ongkos kirim. Sementara itu, produk dalam negeri menghadapi kenaikan harga karena bahan baku impor yang digunakan menjadi lebih mahal akibat gangguan rantai pasok. Ditambah lagi, kenaikan biaya energi di dalam negeri turut meningkatkan ongkos produksi. Penguatan dolar AS semakin memperparah situasi, berpotensi mendorong kenaikan harga bahan baku impor lebih lanjut dan membengkakkan biaya produksi secara keseluruhan. Anggi menduga bahwa perang di Eropa dan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk operasional pabrik menjadi faktor ganda yang mendorong kenaikan harga barang, khususnya produk plastik. Ia juga tidak menampik kemungkinan pengaruh penguatan nilai dolar AS terhadap situasi ini.











