
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan adanya penurunan signifikan pada jumlah penumpang berbagai moda transportasi di Indonesia setelah periode Ramadhan dan Idul Fitri tahun 2026. Data BPS menunjukkan bahwa angkutan udara domestik mengalami penurunan penumpang sebesar 18,72% pada April 2026 dibandingkan bulan Maret 2026, dengan total penumpang mencapai 4,6 juta orang. Penurunan ini merata di seluruh bandara utama yang dipantau. Bandara Soekarno Hatta di Tangerang mencatat penurunan terbesar sebesar 20,29%, diikuti oleh Bandara Hasanuddin di Makassar (-11,60%), Bandara Ngurah Rai di Denpasar (-10,80%), Bandara Kualanamu di Medan (-6,98%), dan Bandara Juanda di Surabaya (-0,88%).
Meskipun demikian, Bandara Soekarno Hatta-Tangerang tetap menjadi bandara dengan jumlah penumpang domestik terbanyak, yaitu 1,3 juta orang atau 27,79% dari total penumpang domestik. Bandara Juanda-Surabaya menyusul di posisi kedua dengan 448 ribu penumpang, mewakili 9,81% dari total penumpang domestik.
Fenomena yang menarik terjadi pada angkutan udara internasional. Berbeda dengan moda transportasi domestik, penumpang angkutan udara ke luar negeri justru mengalami kenaikan tipis sebesar 0,93% pada April 2026 dibandingkan bulan sebelumnya, dengan total mencapai 1,6 juta orang. Kenaikan ini didorong oleh peningkatan penumpang di Bandara Juanda-Surabaya yang mencapai 13,42% dan Bandara Ngurah Rai-Denpasar yang naik 10,95%.
Namun, tren kenaikan ini tidak berlaku di semua bandara internasional. Bandara Hasanuddin-Makassar mencatat penurunan penumpang internasional sebesar 13,24%, Bandara Soekarno Hatta-Tangerang sebesar 8,66%, dan Bandara Kualanamu-Medan sebesar 6,36%.
Dalam hal jumlah penumpang internasional, Bandara Soekarno Hatta-Tangerang masih memegang kendali dengan 632,1 ribu penumpang, atau 40,54% dari total penumpang internasional. Bandara Ngurah Rai-Denpasar berada di posisi kedua dengan 585,6 ribu penumpang, mencakup 37,56% dari total penumpang internasional.
Penurunan penumpang moda transportasi pasca-libur keagamaan seperti Idul Fitri adalah fenomena yang lazim terjadi. Mobilitas masyarakat yang tinggi selama periode mudik dan balik seringkali menciptakan lonjakan trafik yang kemudian mereda setelah masyarakat kembali ke rutinitas sehari-hari. Faktor-faktor seperti berakhirnya masa libur, kembalinya aktivitas kerja dan sekolah, serta pertimbangan biaya perjalanan setelah periode puncak biasanya menjadi pendorong utama penurunan ini.
Data BPS ini memberikan gambaran penting mengenai pola pergerakan penumpang di Indonesia. Analisis lebih lanjut terhadap data ini dapat membantu pihak terkait, seperti operator transportasi dan pemerintah, dalam merencanakan strategi pengelolaan kapasitas, penetapan harga, dan pengembangan infrastruktur transportasi di masa mendatang. Perbedaan tren antara transportasi domestik dan internasional juga mengindikasikan dinamika pasar yang berbeda, di mana sektor internasional mungkin lebih dipengaruhi oleh faktor-faktor global dan minat wisatawan asing.











