
Bank Indonesia (BI) memproyeksikan kinerja penjualan eceran atau retail pada Maret 2026 akan terus menunjukkan tren positif. Indeks Penjualan Riil (IPR) periode tersebut diperkirakan tumbuh sebesar 2,4% secara tahunan (year-on-year/yoy). Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan penjualan pada Kelompok Suku Cadang dan Aksesori, Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau, serta Kelompok Barang Budaya dan Rekreasi.
Secara bulanan, penjualan eceran pada Maret 2026 diprakirakan melonjak 9,3% (month-on-month/mtm), jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 4,1% (mtm) pada Februari 2026. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa lonjakan ini utamanya disumbang oleh Kelompok Peralatan Informasi dan Komunikasi, Kelompok Bahan Bakar Kendaraan Bermotor, dan Subkelompok Sandang. Peningkatan ini sejalan dengan kenaikan permintaan rumah tangga menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) seperti Ramadan dan Idulfitri 1447 Hijriah.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, optimis bahwa penjualan ritel tidak hanya positif di Maret, tetapi juga sepanjang kuartal I-2026. IPR kuartal I-2026 diprediksi tumbuh 4,86%, meningkat signifikan dari 2,77% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Rata-rata pertumbuhan IPR kuartal I tahun ini mencapai 5%, naik dari 3% tahun lalu.
Faisal mengemukakan bahwa pertumbuhan ini banyak disokong oleh peningkatan konsumsi masyarakat kelas atas, sementara daya beli kelas menengah masih terbatas. Meskipun demikian, konsumsi rumah tangga secara agregat pada kuartal I menunjukkan penguatan dibandingkan tahun sebelumnya. Kelas atas tampaknya lebih aktif dalam berbelanja, yang turut mendongkrak indeks penjualan riil dan konsumsi rumah tangga secara umum.
Dari sisi sektor konsumsi, penjualan ritel didominasi oleh kelompok makanan dan minuman, yang mengalami peningkatan dibandingkan tahun lalu. Belanja kebutuhan esensial seperti makanan dan minuman menjadi pendorong utama pertumbuhan, sementara sektor lain seperti suku cadang motor tumbuh positif namun lebih lambat.
Ekonom Senior INDEF, Tauhid Ahmad, sepakat bahwa kelompok makanan dan minuman masih mendominasi penjualan ritel. Sektor pembelian lain cenderung tumbuh, namun dengan laju yang kurang cepat, bahkan beberapa di antaranya masih di bawah 5% atau bahkan negatif.
Perhatian khusus perlu diberikan pada dampak perang di Timur Tengah terhadap ekonomi domestik, yang berpotensi memengaruhi laju penjualan ritel. Konflik global ini dapat menyebabkan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), mendorong masyarakat untuk menahan pembelian. Dampak penuh diperkirakan baru akan terlihat pada kuartal II-2026, seiring penyesuaian harga BBM non-subsidi yang mulai dilakukan pada April. Meskipun penyesuaian harga BBM tidak terlalu besar, hal ini berpotensi mempengaruhi konsumsi masyarakat ke depan.











