
Direktur Ekonomi CELIOS, Nailul Huda, membantah pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang mengklaim pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat tidak berdampak bagi masyarakat di perdesaan. Huda menegaskan bahwa klaim tersebut keliru dan masyarakat desa justru turut merasakan dampak negatifnya, terutama seiring kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok.
Menurut Huda, pelemahan rupiah akan memicu inflasi yang signifikan, menaikkan biaya distribusi bahan bakar minyak (BBM), serta berdampak pada kenaikan harga barang secara umum. Fenomena "imported inflation" diprediksi akan terjadi, terutama pada barang-barang yang bergantung pada impor, baik sebagai bahan baku, bahan penolong, maupun produk konsumsi jadi. Kenaikan harga ini diperkirakan akan mulai terasa dalam dua hingga tiga bulan ke depan.
Huda memberikan contoh nyata dari kenaikan harga plastik. Kelangkaan barang dan tingginya biaya distribusi telah mendorong harga plastik naik. Dengan kondisi rupiah yang semakin melemah, Huda memperkirakan harga plastik akan terus merangkak naik. Hal ini secara otomatis akan berdampak pada harga barang-barang yang menggunakan plastik sebagai komponen utamanya. "Apakah di desa tidak ada plastik? Tentu saja banyak dan itu menggerus dompet masyarakat desa juga," tegas Huda.
Dampak pelemahan rupiah juga akan dirasakan oleh barang-barang elektronik. Sebagian besar komponen elektronik masih berasal dari impor. Oleh karena itu, ketika nilai tukar rupiah melemah, harga barang elektronik pun akan ikut mengalami penyesuaian ke atas. Huda mengingatkan, "Apakah di desa tidak ada TV atau komponen elektronik lainnya? Tentu saja ada dan itu semakin menekan ekonomi di desa."
Lebih lanjut, Huda menyoroti potensi kenaikan harga pupuk, yang sangat krusial bagi sektor pertanian. Mayoritas bahan baku pupuk, seperti gas, masih bergantung pada pasokan dari luar negeri. Ketika pasokan terganggu dan rupiah melemah, harga pupuk dipastikan akan naik. "Harga pupuk yang naik pasti mengganggu sektor pertanian," ujar Huda. Kenaikan biaya produksi di sektor pertanian ini pada akhirnya akan berimbas pada harga pangan.
Selain tekanan dari sisi harga, daya beli masyarakat juga belum menunjukkan perbaikan akibat berbagai tekanan ekonomi domestik. Dalam situasi seperti ini, produsen akan berpikir dua kali untuk menaikkan harga jual produk mereka. Akibatnya, kombinasi antara peningkatan biaya produksi dan penurunan permintaan akan mendorong pengusaha untuk melakukan efisiensi. Salah satu bentuk efisiensi yang paling mungkin terjadi adalah pengurangan jumlah tenaga kerja atau bahkan pemutusan hubungan kerja (PHK). Kondisi ini tentu akan semakin membebani perekonomian, termasuk di wilayah perdesaan.











