Pedagang Valas Kaki Lima di Kwitang Terima Uang Rusak

Budi Santoso

Pedagang Valas Kaki Lima di Kwitang Terima Uang Rusak

Di tengah menjamurnya money changer resmi, pedagang valuta asing (valas) kaki lima di sekitar Kwitang, Jakarta Pusat, tetap bertahan dengan keunikan layanan mereka. Berbeda dengan lembaga keuangan formal, para pedagang ini bersedia menerima uang asing dalam kondisi lecek, lusuh, bahkan sobek sebagian. Inilah yang menjadi senjata utama mereka dalam bersaing. Rohadi (55), salah satu pedagang yang telah berjualan sejak 1998, menjelaskan bahwa perbedaan layanan inilah yang membuat pelanggan setia mereka tetap datang. Tentu saja, nilai tukar untuk uang asing yang rusak ini lebih rendah dibandingkan kurs di money changer resmi.

Sebagai ilustrasi, saat kurs dolar AS berada di kisaran Rp 17.500, Rohadi menerima penjualan dolar AS dengan harga Rp 16.500 per dolar. Ia biasanya mengambil selisih harga sekitar Rp 1.000 di bawah harga money changer resmi untuk mendapatkan keuntungan. "Terakhir tukar itu masih Rp 17.500 (per dolar), itu kita terima Rp 16.500," ujar Rohadi. Jika nilai tukar naik mendekati Rp 18.000 per dolar AS, ia tetap akan menerima di harga Rp 16.500, atau maksimal Rp 17.000 jika pelanggan memaksa. Intinya, ia akan menerima dolar dengan selisih minimal Rp 1.000 di bawah harga resmi.

Kondisi uang yang masih bisa diterima adalah jika kerusakan hanya terjadi di bagian pinggir atau sobekan belum terputus. Semakin parah kerusakannya, semakin rendah nilai tukarnya. "Kalau rusaknya parah ya di bawah harga tadi, yang tergantung gimana kondisinya. (Kalau rusak parah?) tadi Rp 16.500 ya bisa Rp 16.000, bisa Rp 15.000, tergantung kondisi sama dia bisa terima harga berapa," jelasnya. Uang asing yang tidak dapat diterima adalah jika kerusakannya menghilangkan satu angka atau huruf pada nomor seri. Selama nomor seri masih terbaca dan dikenali, mata uang tersebut masih bisa ditransaksikan. "Kalau sobek setengah tetap diterima, yang penting masih utuh (sisa sobekan belum terputus atau masih ada), nomor serinya juga sama, jadi di kanan-kiri sama atas-bawah itu sama semua serinya," terangnya.

Baca Juga :  Kertajati Jadi Pusat MRO Pesawat Hercules Militer Asia

Rohadi bekerja di bawah seorang bos yang menyediakan seluruh modal transaksi. Ketika ada pelanggan yang ingin menjual atau membeli valas, ia akan menghubungi bosnya. Setelah kesepakatan harga tercapai, transaksi baru dilakukan. "Jadi semua modal beli dari bos. Tapi ya agak lama, karena kan saya harus ke bos dulu buat tukar uangnya kan," katanya. Ia tidak mengetahui ke mana bosnya menyalurkan uang rusak yang ia terima. Keuntungan dari setiap transaksi dibagi rata antara dirinya, rekan sesama pedagang, dan sang bos, meskipun bos yang memegang modal lebih besar biasanya mendapatkan porsi keuntungan yang sedikit lebih banyak. "Kalau orang di sini ada dua, tiga sama bos, bagi rata. Tapi yang pegang duit yang lebih gede lah. Misalnya dapatnya Rp 100.000 ini keuntungan, di sini Rp 30.000 sama Rp 30.000, kalau bosnya Rp 40.000. Yang pegang duit yang lebih gede," paparnya.

Meskipun nilai rupiah sedang melemah, usaha Rohadi tidak terlalu terpengaruh secara signifikan. Saat ini, ia rata-rata hanya menerima transaksi jual-beli valas dua hingga tiga kali dalam sebulan. Transaksi yang ia terima biasanya hanya beberapa lembar, seperti US$ 10, US$ 50, atau US$ 100. Transaksi terbesar yang pernah ia tangani terjadi sekitar dua bulan lalu, di mana seorang pelanggan menukar 10 lembar dolar AS bernominal US$ 100, dengan total transaksi sekitar US$ 1.000 senilai Rp 16 juta. "Paling besar tukar 10 lembar, (total nominal) US$ 1.000, kita kasih Rp 16 juta. Belum lama sih, ada masa 2 bulanan ya," tandasnya.

Baca Juga :  Konflik Iran-AS Rugikan Bisnis Global Rp400 T

Also Read

Tinggalkan komentar