
Organisasi negara-negara pengekspor minyak dan sekutunya (OPEC+) sepakat untuk meningkatkan produksi minyak sebesar 188.000 barel per hari (bph) mulai Juni. Keputusan ini diambil menyusul ketidakpastian pasokan global yang dipicu oleh perang di Timur Tengah dan keluarnya Uni Emirat Arab (UEA) dari keanggotaan kunci OPEC. Peningkatan produksi bulan Juni ini sedikit lebih rendah dibandingkan dengan rencana kenaikan sebesar 206.000 bph pada Mei, dan angka tersebut tidak lagi mencakup kontribusi produksi UEA yang secara resmi meninggalkan OPEC pada 1 Mei. Pernyataan OPEC menegaskan komitmen kolektif untuk mendukung stabilitas pasar minyak melalui penyesuaian produksi ini.
Pasokan minyak global telah mengalami krisis sejak perang di Iran pecah pada 28 Februari, yang menyebabkan penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran vital untuk ekspor minyak dan gas dunia. Situasi semakin rumit dengan keputusan UEA, produsen terbesar ketiga di OPEC, untuk keluar dari kelompok tersebut demi kepentingan nasionalnya. Keputusan UEA ini diambil setelah evaluasi mendalam terhadap kebijakan dan kapasitas produksinya.
Meskipun dihadapkan pada berbagai tekanan, harga minyak global sempat mengalami penurunan pada Jumat, 1 Mei. Penurunan ini dipicu oleh proposal perdamaian terbaru dari Iran kepada mediator di Pakistan, yang kembali menghidupkan harapan akan kemungkinan penyelesaian konflik dengan Amerika Serikat. Harga minyak mentah berjangka AS tercatat turun 3% menjadi US$101,94 per barel, sementara minyak mentah Brent turun hampir 2% menjadi US$108,17 per barel. Namun, penurunan ini masih belum signifikan jika dibandingkan dengan harga normal sebelum perang. Keduanya masih menunjukkan kenaikan sekitar 78% dibandingkan dengan awal tahun 2026.
Keluarnya UEA dari OPEC+ dipandang sebagai langkah strategis yang didasarkan pada analisis mendalam mengenai kebutuhan dan kapasitas produksi nasionalnya. Keputusan ini merupakan yang pertama kali diambil oleh anggota OPEC+ sejak pembentukan aliansi tersebut. Dampak dari keputusan ini terhadap pasar global masih terus dipantau, namun OPEC+ tetap berkomitmen untuk menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan minyak dunia.
Perang di Timur Tengah telah memberikan tekanan besar pada rantai pasok energi global, menyebabkan volatilitas harga yang signifikan. Penutupan Selat Hormuz, sebagai salah satu jalur laut terpenting untuk ekspor energi, semakin memperburuk situasi. Dengan demikian, langkah OPEC+ untuk menyesuaikan produksi minyak menjadi sangat krusial dalam upaya menstabilkan pasar dan mencegah lonjakan harga yang lebih drastis.
Rincian lebih lanjut mengenai mekanisme penyesuaian produksi dan dampaknya terhadap negara-negara anggota akan terus diinformasikan. OPEC+ menekankan pentingnya kerjasama dan komunikasi yang erat antar anggota untuk menghadapi tantangan global yang kompleks ini.











