Neraca Dagang Indonesia Surplus 71 Bulan Beruntun, Cuan Komoditas Dominasi

Budi Santoso

Neraca Dagang Indonesia Surplus 71 Bulan Beruntun, Cuan Komoditas Dominasi

Kinerja perdagangan Indonesia kembali mencatatkan rekor positif dengan surplus neraca perdagangan barang sebesar US$ 3,32 miliar pada Maret 2026. Prestasi ini menandai periode surplus yang luar biasa selama 71 bulan berturut-turut, terhitung sejak Mei 2020, sebuah pencapaian yang menggarisbawahi ketahanan ekonomi nasional di tengah gejolak global. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan data gemilang ini, yang menyoroti peran vital komoditas dalam mendongkrak nilai ekspor Indonesia.

Para ekonom sepakat bahwa lonjakan harga komoditas global menjadi motor penggerak utama surplus perdagangan kali ini. Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad, menjelaskan bahwa kenaikan harga komoditas unggulan seperti batu bara, crude palm oil (CPO), dan nikel telah memberikan keuntungan tak terduga atau "windfall" bagi Indonesia. Meskipun volume ekspor cenderung stabil, nilai ekspor melonjak signifikan berkat harga komoditas yang meroket di pasar internasional. "Artinya ada momentum, harga-harga sumber daya alam seperti batu bara, CPO, dan nikel itu naik. Volume ekspor relatif stabil, tapi kenaikan harga yang membuat surplus perdagangan kita makin besar," ujar Tauhid. Ia menambahkan bahwa kondisi ini menunjukkan kekuatan ekonomi Indonesia dalam menghadapi tantangan global, terutama dengan kemampuannya memanfaatkan kenaikan harga komoditas.

Direktur Eksekutif INDEF, Esther Sri Astuti, menekankan pentingnya menjaga dan mempertahankan tren surplus perdagangan ini. Harapannya adalah agar surplus ini dapat berkontribusi lebih besar dalam menghasilkan devisa negara, khususnya dolar Amerika Serikat (AS). "Ini masih harus dijaga dan dipertahankan, agar menghasilkan lebih banyak USD. Di sisi lain impor harus dikurangi, selain mengurangi ketergantungan asing juga mengurangi devisa yang keluar Indonesia lebih banyak," tegas Esther. Strategi mengurangi impor menjadi kunci untuk tidak hanya memperkuat cadangan devisa, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada barang-barang dari luar negeri.

Baca Juga :  BCA Libur Panjang 14-15 Mei, Layanan Digital Tetap Siaga 24 Jam

Lebih rinci, surplus pada Maret 2026 didominasi oleh kinerja sektor nonmigas yang berhasil mencatatkan surplus sebesar US$ 5,21 miliar. Komoditas utama penyumbang surplus nonmigas meliputi lemak dan minyak hewan nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja. Sektor-sektor ini menunjukkan daya saing yang kuat di pasar global. Di sisi lain, neraca perdagangan migas masih mencatat defisit sebesar US$ 1,89 miliar, yang berasal dari impor minyak mentah, hasil minyak, dan gas. Meskipun ada defisit di sektor migas, surplus besar dari sektor nonmigas berhasil menutupi defisit tersebut, sehingga secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia hingga Maret 2026 membukukan surplus total sebesar US$ 5,55 miliar. Keberlanjutan surplus ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi Indonesia untuk terus memperkuat fundamental ekonominya.

Also Read

Tinggalkan komentar