
Pemerintah Indonesia tengah merancang strategi ambisius untuk meningkatkan kontrol negara atas sektor pertambangan nasional. Langkah ini bertujuan untuk mengoptimalkan pendapatan negara dan selaras dengan amanat Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 yang mengamanatkan penguasaan sumber daya alam oleh negara demi kemakmuran rakyat. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, telah melaporkan rencana strategis ini kepada Presiden Prabowo Subianto, menandakan keseriusan pemerintah dalam reformasi sektor pertambangan.
Inti dari penataan ini adalah optimalisasi kepemilikan mayoritas sektor pertambangan oleh negara. Bahlil menjelaskan bahwa perizinan pertambangan, baik yang sudah ada maupun yang baru, akan direstrukturisasi. Skema bagi hasil yang akan diterapkan mencakup metode cost recovery dan gross split, meniru pola yang sukses diterapkan dalam pengelolaan minyak dan gas bumi (migas). Tujuannya adalah agar negara mendapatkan porsi pendapatan yang lebih besar dan seimbang dari eksploitasi sumber daya alam. "Tetap konsesi, tetapi kita akan mengoptimalkan untuk pendapatan agar seimbang dengan negara. Negara harusnya akan mendapatkan porsi yang lebih besar," tegas Bahlil.
Selain fokus pada pertambangan, pemerintah juga giat mengkaji substitusi penggunaan Liquefied Petroleum Gas (LPG) dengan Compressed Natural Gas (CNG) untuk memenuhi kebutuhan energi domestik. Kebijakan ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada impor energi, menghemat devisa negara, dan meringankan beban subsidi energi. Bahlil memproyeksikan bahwa peralihan ke CNG dapat menghemat devisa negara hingga Rp130 triliun. Keunggulan CNG terletak pada harganya yang diprediksi lebih murah sekitar 30% dibandingkan LPG. Hal ini dikarenakan sumber gas dan industri CNG berasal dari dalam negeri, sehingga biaya transportasi menjadi lebih efisien dibandingkan LPG yang sebagian besar masih mengandalkan impor. "Karena yang pertama gasnya itu ada di kita dan industrinya ada di kita, dalam negeri. Jadi tidak kita melakukan import. Cost transportasinya aja sudah bisa meng-cover," jelas Bahlil.
Lebih lanjut, Bahlil menekankan efisiensi CNG yang dapat menjangkau hampir seluruh wilayah yang memiliki sumber gas. Namun, implementasi penggunaan tabung CNG di masyarakat masih dalam tahap uji coba. Tekanan CNG yang sangat tinggi, mencapai 250 bar, memerlukan modifikasi khusus pada tabung yang saat ini digunakan untuk LPG 3 kilogram. Hasil uji coba ini diperkirakan akan keluar dalam dua hingga tiga bulan mendatang, menjadi penentu langkah selanjutnya dalam mewujudkan energi yang lebih efisien dan mandiri bagi masyarakat Indonesia.











