
Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menyoroti keputusan MSCI yang mengeluarkan 18 saham Indonesia dari indeksnya. Keputusan yang diumumkan pada Rabu (13/5) lalu ini bertepatan dengan pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 3,76% ke level 6.470,34, dan pelemahan 25,17% sepanjang tahun ini. Misbakhun menekankan bahwa momen ini harus menjadi titik tolak untuk pembenahan dan penguatan fundamental pasar modal agar lebih sehat, transparan, dan kredibel di mata investor global. Ia mengingatkan bahwa penyesuaian indeks ini adalah konsekuensi jangka pendek yang perlu disikapi secara proporsional, bukan sebagai cerminan kelemahan pasar secara keseluruhan.
Menurut Misbakhun, pasar modal yang kuat tidak hanya dibangun di atas euforia kenaikan indeks semata, melainkan dari kredibilitas sistem, kualitas tata kelola, dan kepercayaan investor terhadap integritas pasar. Ia mengimbau investor dan pelaku pasar untuk tidak bereaksi berlebihan terhadap rebalancing MSCI, menjelaskan bahwa tekanan pada IHSG beberapa minggu terakhir lebih disebabkan oleh penyesuaian portofolio jangka pendek oleh investor.
Untuk menghadapi tantangan ini dan memperkuat ketahanan pasar modal, Misbakhun mendorong beberapa langkah strategis. Pertama, penguatan basis investor domestik menjadi prioritas utama. Dengan basis investor domestik yang kuat, pasar modal akan menjadi kurang rentan terhadap fluktuasi arus modal asing jangka pendek. Kedua, peningkatan kualitas emiten juga sangat krusial. Emiten yang memiliki fundamental kuat, tata kelola yang baik, dan transparansi akan menarik minat investor jangka panjang dan meningkatkan kepercayaan pasar. Ketiga, pendalaman pasar keuangan perlu terus digalakkan. Ini mencakup diversifikasi instrumen investasi, peningkatan likuiditas, dan pengembangan infrastruktur pasar yang memadai.
Misbakhun menekankan pentingnya melihat situasi ini dalam perspektif jangka panjang. Ia optimis bahwa pasar modal Indonesia tetap memiliki prospek yang baik selama reformasi struktural dan penguatan integritas pasar dijalankan secara konsisten. Posisi Indonesia sebagai emerging market harus dijaga dengan terus memperbaiki kualitas pasar secara berkelanjutan. Kepercayaan investor global, menurutnya, dibangun di atas kepastian regulasi, transparansi, dan kredibilitas sistem perdagangan.
Ia menambahkan bahwa fondasi ekonomi nasional Indonesia yang solid menjadi modal utama untuk menjaga optimisme ini. Pertumbuhan investor domestik yang terus meningkat juga menjadi indikator positif. "Indonesia memiliki fondasi ekonomi yang kuat. Yang perlu kita lakukan sekarang adalah memastikan kualitas pasar kita tumbuh setara dengan potensi ekonomi nasional," pungkasnya, menegaskan bahwa perbaikan kualitas pasar adalah kunci untuk mewujudkan potensi ekonomi yang sesungguhnya.











