
Harga minyak mentah global mengalami penurunan signifikan pada Senin, 25 Mei 2026, dengan Brent anjlok lebih dari 4% menjadi US$ 98,83 per barel, dan West Texas Intermediate (WTI) juga turun lebih dari 4% ke level US$ 92,03 per barel. Pelemahan ini terjadi di tengah sinyal positif dari Amerika Serikat terkait potensi kesepakatan damai dengan Iran, yang diharapkan dapat membuka kembali Selat Hormuz. Pembukaan kembali jalur pelayaran vital ini dipercaya akan melancarkan kembali pasokan energi dunia yang terganggu akibat konflik yang telah berlangsung hampir tiga bulan.
Seiring dengan merosotnya harga minyak, dolar Amerika Serikat juga menunjukkan pelemahan terhadap mata uang utama lainnya. Euro tercatat menguat 0,37% menjadi US$ 1,1646, sementara yen Jepang menguat terhadap dolar AS, diperdagangkan pada 158,85 per dolar. Pelemahan dolar ini mencerminkan pergeseran sentimen pasar yang cenderung mengambil risiko lebih besar, terlihat dari kenaikan kontrak berjangka saham AS. Kontrak berjangka Nasdaq naik 0,89% dan S&P 500 menguat 0,6%. Indeks Nikkei Jepang juga diprediksi akan memulai sesi perdagangan Senin dengan kuat.
Nick Twidale, Kepala Analis Pasar di ATFX Global, memperkirakan pasar akan menunjukkan selera risiko yang lebih tinggi pada hari Senin, namun kenaikan tajam mungkin tertahan hingga ada konfirmasi pasti mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz. "Kita perlu melihat kesepakatan yang berlaku dalam sesi mendatang karena kita tahu masih ada beberapa poin penting yang masih diperdebatkan," ujar Twidale.
Para ahli strategi dari Commonwealth Bank of Australia juga menyoroti bahwa isu krusial bagi pasar keuangan adalah kapan dan dalam kondisi apa Selat Hormuz akan dibuka kembali. Pertanyaan penting lainnya adalah berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memperbaiki fasilitas produksi dan infrastruktur guna mengembalikan peningkatan produksi energi dan komoditas lainnya ke level sebelum perang.
Perang yang telah berlangsung selama hampir tiga bulan ini telah memicu lonjakan harga energi dan mengganggu prospek suku bunga global akibat kekhawatiran inflasi. Iran secara efektif telah menutup Selat Hormuz, jalur yang dilalui oleh sebagian besar pasokan energi dunia.
Pernyataan dari Presiden AS Donald Trump pada Minggu (24/5) memberikan nuansa yang sedikit berbeda. Ia menyatakan telah menginstruksikan perwakilannya untuk tidak terburu-buru dalam membuat kesepakatan dengan Iran, yang dapat meredam ekspektasi terobosan segera. Pernyataan ini kontras dengan pernyataannya sehari sebelumnya, di mana Trump mengindikasikan bahwa AS dan Iran telah hampir menyelesaikan nota kesepahaman untuk kesepakatan damai yang akan membuka kembali Selat Hormuz. "Sebuah kesepakatan sebagian besar telah dinegosiasikan dan masih menunggu finalisasi antara AS, Republik Islam Iran dan berbagai negara lain," tulis Trump di platform Truth Social, mengutip dari CNBC. Ketidakpastian mengenai finalisasi kesepakatan ini menjadi faktor penting yang akan terus dipantau oleh pasar global.











