
Menteri Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), Maman Abdurrahman, memberikan pernyataan menenangkan terkait kebijakan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang baru saja diberlakukan. Menurut Maman, kenaikan harga tersebut tidak akan memberikan dampak yang signifikan terhadap operasional para pelaku UMKM di tanah air. Penilaian ini didasarkan pada fakta lapangan bahwa mayoritas pelaku usaha kecil masih sangat bergantung pada penggunaan energi bersubsidi yang harganya tetap dijaga stabil oleh pemerintah, seperti Pertalite, Solar subsidi, hingga gas LPG 3 kilogram.
Dalam keterangannya di Jakarta Selatan, Maman menjelaskan bahwa struktur biaya produksi UMKM umumnya lebih banyak dipengaruhi oleh komponen energi yang disubsidi. Oleh karena itu, fluktuasi harga pada jenis bahan bakar nonsubsidi seperti Pertamax series atau Dex series tidak menyentuh langsung jantung biaya operasional mereka. Pemerintah berkomitmen untuk terus mengamankan daya saing sektor UMKM, terutama di tengah ketidakpastian kondisi geopolitik di Timur Tengah yang kerap memicu volatilitas harga energi global.
Meski isu BBM nonsubsidi dianggap aman, Maman mengungkapkan bahwa tantangan nyata yang kini dihadapi pelaku UMKM justru datang dari komoditas lain, yakni kenaikan harga bahan baku plastik. Banyak pelaku usaha, khususnya di sektor kuliner dan industri kreatif, mengeluhkan lonjakan harga kemasan plastik yang mulai membebani margin keuntungan mereka. Merespons keluhan tersebut, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan telah mengambil langkah cepat dengan memperluas akses pasokan bahan baku plastik atau nafta dari berbagai negara mitra strategis, termasuk dari kawasan Afrika, India, hingga Amerika Serikat.
Langkah diversifikasi impor ini diharapkan dapat memecah kebuntuan pasokan dan menekan harga plastik di pasar domestik agar kembali normal dalam waktu dekat. Selain solusi jangka pendek tersebut, Kementerian UMKM juga mulai melirik strategi jangka panjang untuk melepaskan ketergantungan pada plastik berbahan fosil. Maman menyebutkan bahwa pihaknya tengah melakukan kajian mendalam mengenai substitusi bahan baku kemasan yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan, seperti pemanfaatan singkong dan rumput laut.
Pengembangan kemasan berbasis nabati ini tidak hanya bertujuan untuk menstabilkan harga, tetapi juga untuk meningkatkan nilai tambah produk UMKM Indonesia di pasar internasional yang kini semakin menuntut standar keberlanjutan. Walaupun riset ini memerlukan waktu dan studi komprehensif, pemerintah optimistis bahwa transisi menuju bahan baku lokal akan memperkuat struktur ekonomi UMKM di masa depan. Dengan pengawasan ketat terhadap distribusi energi subsidi dan stabilisasi harga bahan baku pendukung, pemerintah yakin sektor UMKM akan tetap menjadi tulang punggung ekonomi nasional yang tangguh dalam menghadapi berbagai guncangan global.











