
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan menyampaikan permintaan maaf kepada para investor dan manajer investasi global atas kondisi pasar keuangan Indonesia yang bergejolak. Permintaan maaf ini disampaikan saat Luhut bertemu dengan para investor di Singapura, mengakui bahwa sentimen geopolitik dan kenaikan harga minyak telah menimbulkan dampak negatif bagi sebagian investor. Meski demikian, Luhut meyakinkan para investor mengenai fundamental ekonomi Indonesia yang dinilainya masih cukup baik. Ekonomi Indonesia tercatat masih tumbuh pesat di angka 5,61%, sementara inflasi berhasil dijaga pada level 2,4%, menunjukkan pengelolaan yang baik meskipun ada gejolak harga minyak global.
Luhut juga memaparkan bahwa ia telah berkomunikasi dengan Presiden terpilih Prabowo Subianto mengenai potensi kenaikan inflasi pasca Juli 2026. Untuk mengantisipasi hal tersebut dan menjaga daya beli masyarakat, Luhut mengusulkan adanya pemberian stimulus ekonomi. Ia mengingatkan pentingnya persiapan stimulus untuk menjaga stabilitas ekonomi, mengingat dampak harga minyak yang mulai terasa dampaknya terhadap barang dan jasa. Dalam pertemuan tersebut, Luhut berupaya memberikan gambaran riil kondisi ekonomi Indonesia untuk meningkatkan kepercayaan investor global dan jajaran aset manajemen terkemuka. Kekhawatiran investor memang terdeteksi terkait volatilitas pasar, termasuk fluktuasi nilai tukar rupiah dan potensi arus modal keluar yang tinggi, yang diperparah oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Menanggapi kekhawatiran tersebut, Luhut menjelaskan bahwa DEN telah melakukan simulasi cermat mengenai skenario harga minyak mencapai US$ 100 per barel. Hasil kajian ini, beserta rekomendasi stimulus ekonomi, telah disampaikan kepada Presiden Prabowo. Lebih lanjut, pemerintah terus berupaya melakukan efisiensi melalui transformasi digital dengan teknologi GovTech. Inisiatif ini dipersiapkan untuk mentransisikan subsidi energi dari berbasis barang menjadi bantuan tunai langsung yang lebih tepat sasaran. Dalam ranah regulasi pasar modal, DEN mendorong Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mengoptimalkan penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam sistem pengawasan guna meningkatkan transparansi dan kebersihan pasar.
DEN juga terus mematangkan ekosistem Indonesia Financial Center (IFC) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). IFC dirancang sebagai pusat kolaborasi strategis yang menawarkan iklim usaha setara dengan pusat keuangan global, didukung oleh kemudahan operasional dan kepastian hukum yang inklusif. Luhut menekankan bahwa kepercayaan dan kepastian merupakan dua pilar yang sama pentingnya dengan pertumbuhan ekonomi. Meskipun implementasi di lapangan tidak selalu mudah, arah kebijakan ekonomi Indonesia telah jelas menuju ekonomi yang lebih kompetitif, transparan, dan efisien. Dengan eksekusi yang kuat, Luhut optimis bahwa peluang investasi jangka panjang di Indonesia tetap sangat menjanjikan.











