Literasi Keuangan Mendesak untuk Kaum Muda di Era Digital

Budi Santoso

Literasi Keuangan Mendesak untuk Kaum Muda di Era Digital

Di era digital yang serba cepat, literasi keuangan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan, terutama bagi generasi muda. Pemahaman keuangan yang kuat memungkinkan masyarakat untuk menabung dan berinvestasi dengan risiko yang terkendali. Namun, Ketua Dewan Komisioner LPS, Anggito Abimanyu, menyoroti sebuah paradoks di sektor keuangan Indonesia: pergerakan uang yang jauh lebih cepat dibandingkan pemahaman masyarakat akan risiko keuangan. Transaksi digital instan dan produk investasi yang kian beragam memberikan manfaat, tetapi daya tahan literasi masyarakat belum mampu mengimbangi pesatnya perkembangan industri ini. Ketimpangan ini menciptakan celah besar yang berujung pada maraknya kejahatan di sektor keuangan, mulai dari investasi bodong, pinjaman online ilegal, hingga judi online.

Anggito menjelaskan, semakin aktifnya masyarakat dalam bertransaksi digital kontras dengan banyaknya rekening yang masih pasif. Pertumbuhan pinjaman online ilegal yang pesat, penyusupan judi digital melalui platform teknologi, serta investasi semu yang memanfaatkan rendahnya pemahaman masyarakat, menjadi bukti nyata dari masalah ini. Untuk mengatasi tantangan tersebut, Jogja Financial Festival digelar. Acara ini menjadi wadah penting yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan di sektor keuangan, termasuk pembuat kebijakan, regulator, pelaku industri, akademisi, dan masyarakat luas, untuk berdiskusi dan berbagi perspektif.

Tujuan utama festival ini adalah meningkatkan literasi dan inklusi keuangan masyarakat, khususnya kaum muda. Dengan pemahaman yang lebih baik, generasi muda diharapkan dapat memanfaatkan perkembangan industri keuangan Tanah Air secara bijak dan terhindar dari jerat kejahatan keuangan. Anggito menggarisbawahi bahwa minat generasi muda terhadap investasi portofolio seperti saham, aplikasi retail, fintech, kripto, hingga aset digital terus meningkat. Pertumbuhan investasi retail di Indonesia yang didominasi oleh kaum muda, mahasiswa, dan pelajar merupakan sinyal positif. Namun, optimisme tanpa literasi dapat berujung pada spekulasi. Oleh karena itu, edukasi harus berjalan lebih cepat daripada euforia pasar.

Baca Juga :  Bank Mega Syariah Catat Laba Naik 51% di Triwulan I-2026

Lebih dari sekadar pameran lembaga keuangan atau forum seminar, festival ini dirancang sebagai ruang kolaborasi antara regulator, industri, pemerintah daerah, kampus, media, komunitas kreatif, dan generasi muda. Tujuannya adalah untuk membangun budaya keuangan Indonesia yang baru dan lebih kuat, membekali generasi muda dengan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk navigasi yang aman dan menguntungkan di dunia keuangan modern. Festival ini menegaskan komitmen untuk menciptakan ekosistem keuangan yang lebih sehat dan inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia.

Also Read

Tinggalkan komentar