
Jakarta – Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) pada Kamis, 7 Mei 2026, secara resmi menyoroti dampak signifikan ketidakpastian global, khususnya yang dipicu oleh eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Dalam konferensi pers yang diselenggarakan di kantor Otoritas Jasa Keuangan, Jakarta, para pimpinan KSSK, yang meliputi Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi, serta Ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu, sepakat bahwa potensi lonjakan harga energi dan tekanan yang kian intensif pada pasar keuangan global perlu diantisipasi secara cermat dan berkelanjutan.

Pertemuan KSSK II 2026 ini secara spesifik membahas dinamika penyelesaian konflik di Timur Tengah sebagai faktor utama yang terus mendorong volatilitas pasar keuangan internasional. Ketidakpastian ini berpotensi besar memengaruhi kondisi ekonomi domestik Indonesia, terutama melalui jalur harga energi. Oleh karena itu, KSSK berkomitmen untuk terus melakukan asesmen secara forward looking terhadap kinerja perekonomian dan sektor keuangan nasional guna mengidentifikasi dan memitigasi risiko-risiko yang mungkin timbul.

Meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan pertama tahun 2026 tercatat cukup menggembirakan, mencapai angka 5,61 persen, KSSK tetap menunjukkan kewaspadaan tinggi terhadap berbagai potensi tekanan ekonomi yang mungkin dihadapi ke depan. Evaluasi terhadap perkembangan ekonomi pada triwulan kedua akan terus dilakukan secara berkala, seiring dengan meningkatnya ketidakpastian di kancah global. Langkah mitigasi risiko ini menjadi krusial untuk menjaga stabilitas sistem keuangan nasional dan memastikan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi.

KSSK, sebagai garda terdepan penjaga stabilitas ekonomi Indonesia, menegaskan kembali komitmennya untuk memperkuat koordinasi antarlembaga. Koordinasi yang solid ini tidak hanya terjalin antar anggota KSSK (Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, OJK, dan LPS), tetapi juga meluas ke kementerian dan lembaga negara lainnya yang relevan. Penguatan sinergi ini diharapkan dapat menghasilkan langkah-langkah mitigasi risiko yang lebih efektif dan responsif terhadap setiap gejolak ekonomi, baik yang bersumber dari dalam maupun luar negeri. Dengan demikian, Indonesia dapat terus menjaga ketahanan ekonominya di tengah tantangan global yang kompleks.











