
Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono menghadiri Multaqo Pengajian Guru-Guru dan Ulama se-Jawa Barat di Pondok Pesantren Alam Agrikultural, Megamendung, Bogor. Acara ini menjadi momentum penting bagi pemerintah untuk mendorong penguatan kemandirian ekonomi umat melalui pembentukan koperasi di lingkungan pesantren. Pendiri Ponpes Alam Agrikultural, Habib Rizieq Syihab, menyambut baik inisiatif ini dan menyatakan dukungannya penuh terhadap kebangkitan sistem ekonomi kerakyatan berbasis koperasi. Menurutnya, koperasi adalah jalan efektif untuk melawan hegemoni oligarki yang selama ini menguasai pasar Indonesia. Habib Rizieq mengingatkan kembali sejarah ekonomi Nabi Muhammad SAW di Madinah yang berhasil mematahkan dominasi pasar pihak tertentu melalui persatuan dan prinsip berbagi, yang kini dikenal sebagai koperasi.
Menkop Ferry menekankan pentingnya mengembalikan peran koperasi sebagai sokoguru perekonomian nasional, sesuai amanat konstitusi. Ia prihatin dengan dominasi kekuatan pasar dan korporasi besar yang dinilai menyebabkan ketimpangan. "Presiden ingin supaya koperasi itu kembali seperti dulu dicita-citakan oleh para pemimpin bangsa. Negara harus hadir mengatur sistem ekonomi agar ada keadilan, dan koperasi adalah instrumen utamanya," ujar Ferry. Ia juga menyoroti sejarah panjang koperasi yang dipelopori tokoh-tokoh Islam seperti HOS Cokroaminoto, membuktikan keselarasan nilai-nilai kebersamaan dalam koperasi dengan nilai-nilai pesantren.
Dalam upaya akselerasi program, pemerintah tengah meluncurkan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di 83 ribu desa dan kelurahan. KDKMP memiliki tiga fungsi strategis: menyalurkan kebutuhan pokok dan sarana produksi langsung ke desa, menyerap hasil produk masyarakat desa, serta menjadi kanal penyaluran bantuan pemerintah agar lebih tepat sasaran. Ferry secara khusus mendorong Ponpes Alam Agrikultural dan ormas Islam lainnya untuk memperkuat Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren). Ia mencontohkan kesuksesan Kopontren Sidogiri dan Sunan Drajat yang telah berkembang pesat hingga memiliki pabrik, pusat grosir, dan sistem pembiayaan syariah.
Ferry, yang juga Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), mengajak umat untuk tidak hanya menjadi nasabah perbankan syariah, tetapi juga aktif di sektor riil. Ia mendorong pesantren untuk memproduksi kebutuhan harian secara mandiri, seperti sabun, kecap, dan saus, yang nantinya akan dipasarkan melalui jaringan gerai koperasi desa. "Kita ingin membangun ekosistem bersama. Koperasi akan kita dampingi, kita bina, bahkan kita biayai melalui LPDB (Lembaga Pengelola Dana Bergulir)," tegas Ferry, menandakan komitmen pemerintah dalam mewujudkan kemandirian ekonomi umat melalui penguatan koperasi di lingkungan pesantren. Acara tersebut turut dihadiri oleh jajaran ulama, asatidz, dan tokoh masyarakat dari berbagai daerah di Jawa Barat, memperkuat sinergi dalam mewujudkan cita-cita ekonomi kerakyatan.











