
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI menunjukkan ketangguhan luar biasa dengan mencatatkan laba bersih sebesar Rp 5,6 triliun pada kuartal I 2026. Angka ini mengalami kenaikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp 5,4 triliun. Pertumbuhan positif ini didorong oleh penyaluran kredit yang melesat 20,1 persen secara tahunan (year on year/YoY) hingga mencapai Rp 919,3 triliun. Capaian impresif ini diraih di tengah dinamika geopolitik global, terutama ketegangan di Timur Tengah yang memicu volatilitas harga minyak serta kebijakan suku bunga ketat dari berbagai bank sentral dunia.
Direktur Utama BNI, Putrama Wahju Setyawan, menegaskan bahwa performa ini merupakan hasil nyata dari transformasi berkelanjutan melalui penguatan fundamental dan produktivitas. Salah satu langkah strategis yang diambil perseroan untuk memperkokoh struktur finansial adalah penerbitan instrumen Additional Tier-1 (AT1) senilai 700 juta dolar AS atau setara Rp 11,9 triliun pada April 2026. Langkah proaktif tersebut tidak hanya memperkuat modal inti, tetapi juga memberikan ruang lebih luas bagi ekspansi bisnis yang sehat sekaligus menjadi bantalan kuat dalam menghadapi potensi risiko pasar global di masa depan.
Dari sisi pendanaan, BNI berhasil menghimpun Dana Pihak Ketiga (DPK) dengan struktur yang semakin berkualitas dan efisien. Dana murah atau CASA tumbuh signifikan sebesar 26,6 persen YoY menjadi Rp 731,6 triliun per Maret 2026. Pertumbuhan ini ditopang oleh kenaikan saldo giro sebesar 39,7 persen dan tabungan sebesar 10,4 persen. Keberhasilan ini berdampak langsung pada peningkatan pangsa pasar CASA BNI yang naik 120 bps menjadi 11,3 persen, sehingga mampu menjaga efisiensi biaya dana (cost of funds) di tengah kompetisi likuiditas yang sangat ketat.
Keberhasilan operasional ini juga didukung oleh inisiatif BRAVE (Branch, Region, Area, Value, Empowerment) yang mengoptimalkan kantor cabang sebagai ujung tombak layanan dan penjualan. Selain itu, transformasi digital melalui aplikasi "wondr by BNI" telah menjangkau lebih dari 13 juta pengguna dengan tingkat keterlibatan yang terus meningkat. Sementara itu, platform BNIdirect mencatatkan pertumbuhan transaksi di atas 16 persen, memperkuat posisi BNI di segmen korporasi.
Secara keseluruhan, pendapatan bunga bersih (NII) BNI tumbuh 12,1 persen YoY, sementara pendapatan non-bunga naik 12,6 persen berkat peningkatan biaya transaksi digital. Perseroan juga mencatatkan Pendapatan Operasional sebelum Pencadangan (PPOP) tertinggi dalam sejarah kuartal pertama sebesar Rp 9,3 triliun. Kualitas aset tetap terjaga stabil dengan rasio NPL di level 1,9 persen dan Loan at Risk (LAR) yang membaik ke angka 8,6 persen. Dengan LDR di level 83,5 persen dan rasio kecukupan modal (KPMM) sebesar 18,5 persen, BNI memiliki fondasi keuangan yang sangat solid untuk melanjutkan tren pertumbuhan positif sepanjang sisa tahun 2026.











