
PT Kereta Api Indonesia (Persero) mengumumkan bahwa kepadatan penumpang KRL Jabodetabek telah melampaui kapasitas ideal, mencapai 128% hingga 161% pada jam sibuk. Jalur Tanah Abang-Rangkasbitung menjadi yang paling parah, dengan tingkat okupansi 161%, yang berarti satu meter persegi ruang di dalam kereta dapat menampung hingga 8 orang. Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, menjelaskan bahwa kondisi ini sangat memprihatinkan dan menggambarkan sesaknya KRL yang digunakan masyarakat setiap hari. Selain Rangkasbitung, jalur Bekasi juga mengalami kepadatan tinggi sekitar 140%, disusul Bogor sekitar 130%. Secara keseluruhan, KRL Jabodetabek saat ini melayani sekitar 1,3 juta penumpang per hari.
Menanggapi kondisi tersebut, KAI telah menyiapkan program modernisasi dan peningkatan kapasitas jaringan KRL Jabodetabek. Salah satu fokus utama adalah peningkatan kapasitas di jalur Tanah Abang-Rangkasbitung yang selama ini terkendala pasokan listrik, sehingga tidak dapat dilayani rangkaian KRL 12 kereta (SF12). KAI berencana menambah 11 gardu traksi baru untuk meningkatkan pasokan listrik di jalur tersebut. Peningkatan daya ini diharapkan memungkinkan pengoperasian rangkaian KRL yang lebih panjang, seperti SF12, sehingga kapasitas angkut penumpang dapat meningkat secara signifikan. Bobby menyatakan bahwa pekerjaan ini akan dimulai dalam dua minggu ke depan.
Selain peningkatan pasokan listrik, KAI juga akan memperbarui sistem persinyalan yang sudah tua di jalur Tanah Abang-Rangkasbitung. Saat ini, sistem persinyalan yang ada membatasi jarak antar kereta, sehingga waktu tunggu atau headway masih sekitar 10 menit. Sebagai perbandingan, jalur Bekasi dan Bogor sudah memiliki headway yang jauh lebih singkat, yaitu sekitar 3-4 menit. Pembaruan sistem persinyalan ini akan memungkinkan kereta berjalan lebih rapat, mengurangi waktu tunggu penumpang, dan meningkatkan efisiensi operasional.
Lebih lanjut, KAI memiliki rencana ekspansi layanan KRL di wilayah Jabodetabek. Salah satunya adalah memperpanjang layanan KRL dari Cikarang hingga Cikampek. Selain itu, KAI juga berencana mengembangkan lintas Bogor-Sukabumi menjadi layanan KRL. Untuk mendukung peningkatan kapasitas dan layanan ini, KAI juga akan membangun fasilitas pendukung seperti depo dan stabling untuk penyimpanan rangkaian kereta.
Melalui berbagai upaya modernisasi dan peningkatan kapasitas ini, KAI menargetkan peningkatan jumlah penumpang KRL Jabodetabek secara signifikan. Bobby Rasyidin optimis bahwa pada tahun 2030, KRL Jabodetabek akan mampu melayani sekitar 1,5 juta hingga 1,6 juta penumpang per hari, meningkat dari angka 1,3 juta penumpang per hari saat ini. Langkah-langkah strategis ini diharapkan dapat mengatasi masalah kepadatan penumpang, meningkatkan kenyamanan, dan efisiensi transportasi publik di wilayah Jabodetabek.











