Iran Blokade Selat Hormuz, Irak Janji Pulihkan Ekspor Minyak dalam Seminggu

Budi Santoso

Iran Blokade Selat Hormuz, Irak Janji Pulihkan Ekspor Minyak dalam Seminggu

Kapal perusak berpeluru kendali kelas Arleigh Burke USS Michael Murphy (DDG 112) yang dihalau Iran di Selat Hormuz pada Sabtu (11/4/2026) menjadi pemicu kekhawatiran global terhadap pasokan energi. Situasi ini berdampak langsung pada Irak, yang merupakan salah satu produsen minyak utama di Timur Tengah. Wakil Menteri Perminyakan Irak, Basim Mohammed, menyatakan keyakinannya bahwa negaranya mampu memulihkan produksi dan ekspor minyak ke tingkat sebelum penutupan Selat Hormuz dalam waktu sepekan setelah jalur pelayaran kembali dibuka. Pernyataan ini disampaikan Mohammed dalam sebuah wawancara dengan media Asharq Al-Awsat pada Sabtu, 2 Mei 2026.

"Produksi dan ekspor minyak Irak dapat dipulihkan ke tingkat sebelum penutupan Selat Hormuz dalam tujuh hari setelah pelayaran kembali pulih secara bebas," tegas Mohammed. Ia menambahkan bahwa saat ini, produksi minyak Irak berada di angka 1,5 juta barel per hari (bpd), dengan sekitar 200 ribu bpd diekspor melalui Kota Ceyhan, Turki. Angka ini masih jauh di bawah produksi normal Irak yang mencapai 3,5 juta bpd sebelum eskalasi konflik di Selat Hormuz memicu blokade.

Lebih lanjut, Mohammed memastikan bahwa pemeriksaan jalur pipa minyak Kirkuk-Fish-Kabur, yang merupakan cabang baru dari jalur utama Kirkuk-Ceyhan, sedang berlangsung. Uji coba operasional jalur pipa ini dijadwalkan akan dilakukan pada akhir bulan ini, yang diharapkan dapat memperlancar kembali aliran ekspor minyak Irak.

Baca Juga :  BCA Finance Tawarkan Dana Tunai Jaminan BPKB Mobil

Eskalasi konflik yang melibatkan Iran telah mengakibatkan blokade terhadap Selat Hormuz, sebuah jalur suplai yang sangat vital bagi komoditas minyak dan gas alam cair (LNG) dari Teluk Persia menuju pasar global. Blokade ini memberikan pukulan telak bagi performa produksi dan ekspor minyak dari berbagai negara di kawasan Timur Tengah. Akibatnya, banyak negara kini menghadapi kenaikan harga minyak dan komoditas industri lainnya.

Penutupan Selat Hormuz tidak hanya mengancam pasokan energi global, tetapi juga menimbulkan ketidakpastian ekonomi. Kenaikan harga minyak dapat memicu inflasi, meningkatkan biaya produksi bagi industri, dan membebani anggaran rumah tangga. Dunia internasional terus memantau perkembangan situasi di Selat Hormuz, berharap agar jalur pelayaran vital ini segera dibuka kembali demi stabilitas pasokan energi global. Irak, dengan janjinya untuk memulihkan ekspor minyak dalam waktu singkat, memberikan sedikit harapan di tengah ketegangan yang meningkat di kawasan tersebut. Keberhasilan Irak dalam memulihkan produksinya akan menjadi indikator penting bagi pemulihan pasokan energi global secara keseluruhan.

Also Read

Tinggalkan komentar