
Investor asing menunjukkan minat signifikan pada saham-saham bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan perusahaan konglomerat pada penutupan sesi I perdagangan Selasa (5/5). Aksi beli bersih (net foreign buy) ini turut mendorong Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat tajam sebesar 0,83% ke level 7.029,85. Total nilai foreign buy pada sesi pertama mencapai Rp 2,54 triliun, menandakan optimisme pasar terhadap prospek saham-saham unggulan di Indonesia.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menjadi primadona dengan mencatatkan net foreign buy terbesar senilai Rp 259,27 miliar. Perbankan BUMN lainnya, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), juga tidak kalah menarik perhatian investor asing dengan net foreign buy sebesar Rp 169,31 miliar. Kinerja positif BBRI dan BBNI mengindikasikan kepercayaan investor terhadap stabilitas dan potensi pertumbuhan sektor perbankan pelat merah, yang seringkali menjadi penopang ekonomi nasional.
Selain sektor perbankan, saham-saham dari emiten yang terafiliasi dengan konglomerat besar juga menjadi sasaran investor asing. PT Barito Pacific Tbk (BRPT), perusahaan yang dikendalikan oleh konglomerat Prajogo Pangestu, berhasil mencatat net foreign buy senilai Rp 169,31 miliar. Hal ini menunjukkan bahwa saham-saham yang memiliki fundamental kuat dan dikelola oleh pengusaha ternama tetap menjadi daya tarik utama. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), yang juga bergerak di industri petrokimia, turut mencatat net foreign buy sebesar Rp 8,04 miliar, sejalan dengan prospek positif di sektor tersebut.
Perusahaan di sektor energi dan infrastruktur juga turut mencicipi manisnya aksi beli asing. PT Petrosea Tbk (PTRO) mencatat net foreign buy sebesar Rp 7,79 miliar, sementara PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) membukukan angka Rp 3,63 miliar. Hal ini mengindikasikan adanya pergerakan dana asing ke sektor-sektor yang dianggap memiliki prospek jangka panjang, termasuk energi terbarukan dan investasi infrastruktur yang menjadi prioritas pembangunan.
Grup Bakrie juga tidak ketinggalan dalam menarik minat investor asing. PT Energi Mega Persada (ENRG) mencatatkan net foreign buy sebesar Rp 7,45 miliar, sementara PT Intermedia Capital Tbk (MDIA) membukukan Rp 7,07 miliar. Pergerakan ini menunjukkan bahwa saham-saham dari berbagai konglomerasi, terlepas dari fluktuasi pasar, tetap memiliki daya tarik tersendiri bagi investor asing yang jeli melihat potensi pertumbuhan.
Konglomerat Anthoni Salim melalui PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) juga menjadi salah satu emiten yang diburu investor asing, dengan net foreign buy mencapai Rp 6,45 miliar. Perusahaan makanan dan minuman ini dikenal memiliki fundamental yang kokoh dan diversifikasi produk yang luas, menjadikannya aset yang menarik di tengah ketidakpastian ekonomi global. Terakhir, saham milik Hapsoro, PT Rukun Raharja Tbk (RAJA), juga mencatat aksi beli bersih sebesar Rp 4,35 miliar, menandakan adanya minat pada sektor-sektor tertentu yang dikelola oleh entitas bisnis ini.
Secara keseluruhan, aksi net foreign buy pada saham-saham BUMN dan konglomerat ini menunjukkan bahwa investor asing memiliki pandangan positif terhadap perekonomian Indonesia dan potensi pertumbuhan perusahaan-perusahaan unggulannya. Penguatan IHSG yang menembus level 7.000 menjadi konfirmasi lebih lanjut atas optimisme yang sedang melanda pasar modal domestik. Hal ini menjadi sinyal positif bagi iklim investasi di Indonesia dan diharapkan dapat terus berlanjut di masa mendatang.











