
Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk memperkuat ketahanan energi nasional dan mempercepat transisi menuju energi bersih dengan rencana ambisius pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW). Langkah strategis ini merupakan implementasi arahan Presiden untuk mendekarbonisasi sektor energi dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, menegaskan bahwa percepatan proyek PLTS 100 GW akan didukung oleh penyusunan regulasi dasar yang komprehensif serta penyediaan lahan yang memadai.
Koordinasi intensif telah dilakukan antara Kementerian ESDM dengan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) untuk mengidentifikasi potensi lahan. Dari upaya tersebut, teridentifikasi seluas 24.000 hektare (ha) lahan di Pulau Jawa yang dinilai sangat potensial untuk pengembangan proyek PLTS skala besar ini. Ketersediaan lahan yang strategis menjadi salah satu faktor krusial dalam keberhasilan eksekusi proyek monumental ini.
Pada tahap awal, pemerintah akan memprioritaskan pembangunan PLTS sebesar 17 GW. Proyek awal ini juga akan dilengkapi dengan fasilitas battery energy storage system (BESS) atau yang disebut base sebesar 33 GW. Sistem penyimpanan energi ini sangat penting untuk memastikan pasokan listrik yang stabil dan andal dari sumber energi terbarukan, mengingat sifat intermiten dari energi surya. Pembangunan BESS ini akan menjadi tulang punggung dalam menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan listrik, serta meningkatkan keandalan jaringan.
Optimisme pemerintah terlihat dari target penambahan kapasitas energi terbarukan sebesar 17 GW melalui PLTS pada tahun 2026. Target ini tidak hanya berfokus pada peningkatan kapasitas PLTS, tetapi juga mencakup upaya pengurangan penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang dikenal lebih mahal dan berdampak pada lingkungan. Dengan demikian, pemerintah berupaya menciptakan bauran energi yang lebih bersih dan efisien.
Percepatan transisi menuju energi hijau ini sejalan dengan instruksi langsung dari Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, yang menekankan pentingnya pengembangan PLTS skala besar. Pemerintah menetapkan target ambisius untuk mencapai kapasitas terpasang PLTS nasional sebesar 100 GW pada tahun 2029. Target ini merupakan bagian integral dari strategi nasional untuk memperkuat sektor energi bersih, meminimalkan emisi gas rumah kaca, dan pada akhirnya mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil yang semakin menipis dan berfluktuasi harganya.
Proyek PLTS 100 GW ini diharapkan tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan energi domestik yang terus meningkat, tetapi juga dapat mendorong inovasi teknologi, menciptakan lapangan kerja baru di sektor energi terbarukan, dan menjadikan Indonesia sebagai pemain utama dalam transisi energi global. Selain itu, pengembangan PLTS ini juga akan berkontribusi signifikan terhadap pencapaian target Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia dalam upaya mitigasi perubahan iklim. Ketersediaan sumber daya surya yang melimpah di Indonesia menjadi modal utama untuk mewujudkan visi energi bersih di masa depan.











