
Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Perdagangan, tengah aktif menjajaki potensi pasar ekspor baru di kawasan Afrika dan Asia. Langkah strategis ini diambil sebagai antisipasi terhadap ketidakpastian yang terjadi di pasar ekspor tradisional di Timur Tengah akibat konflik yang masih berlangsung. Menteri Perdagangan, Budi Santoso, optimis bahwa situasi krisis global saat ini justru dapat menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperluas jangkauan perdagangannya ke pasar-pasar baru yang belum tergarap secara optimal.
"Kita mencoba menjajakinya di Afrika kemudian di Asia untuk menggantikan pasar di Timur Tengah," ujar Mendag Budi Santoso, menekankan pentingnya diversifikasi pasar ekspor. Beliau membantah anggapan bahwa pencarian pasar baru merupakan tugas yang sulit. Sebaliknya, menurutnya, krisis global seringkali membuka celah dan peluang baru bagi negara-negara yang mampu beradaptasi dengan cepat.
Pengalaman Indonesia saat pandemi COVID-19 menjadi bukti nyata kemampuan adaptasi tersebut. Kala itu, ketika banyak negara mengalami disrupsi pasokan, Indonesia berhasil memanfaatkan situasi untuk masuk ke pasar-pasar baru. "Pengalaman tahun lalu seperti waktu COVID itu kalau terjadi krisis termasuk krisis geopolitik, itu biasanya pasar-pasar baru terbuka. Karena ada kan negara-negara tentu yang pasokannya berhenti. Nah kita kesempatan masuk," jelas Mendag. Momentum ini harus kembali dimanfaatkan dengan optimal untuk memperkuat posisi Indonesia di pasar global.
Meskipun fokus pada penjajakan pasar baru, kinerja ekspor Indonesia pada awal tahun 2026 tetap menunjukkan tren yang positif. Data menunjukkan bahwa pada periode Januari hingga Februari 2026, ekspor Indonesia tercatat mengalami pertumbuhan sekitar 2,19%. Pertumbuhan ini menjadi indikator awal bahwa fundamental ekspor Indonesia masih kuat dan mampu bersaing di pasar internasional.
Lebih lanjut, Mendag Budi Santoso juga mengonfirmasi bahwa neraca perdagangan dengan kawasan Timur Tengah, yang menjadi salah satu pasar utama Indonesia, masih mencatatkan surplus. "Timur Tengah, itu Januari, Februari kita masih surplus non-migasnya surplus US$ 641 juta. Jadi masih positif yang benar-benar nanti bulan Maret dan seterusnya tetap tumbuh," ungkapnya. Surplus ini menunjukkan bahwa produk-produk non-migas Indonesia masih diminati oleh negara-negara di Timur Tengah, meskipun ada tantangan geopolitik.
Penjajakan pasar baru di Afrika dan Asia ini diharapkan dapat memberikan diversifikasi sumber pendapatan ekspor yang lebih stabil dan mengurangi ketergantungan pada satu atau dua kawasan saja. Dengan demikian, perekonomian Indonesia akan menjadi lebih resilient terhadap gejolak ekonomi dan politik global. Strategi ini mencakup identifikasi produk-produk unggulan Indonesia yang memiliki potensi besar di pasar-pasar baru tersebut, serta upaya peningkatan promosi dan fasilitasi perdagangan. Kerjasama bilateral dengan negara-negara di Afrika dan Asia akan terus ditingkatkan untuk membuka akses pasar yang lebih luas. Selain itu, pemanfaatan teknologi digital dalam pemasaran dan distribusi juga menjadi fokus penting untuk menjangkau konsumen di pasar-pasar yang belum familiar dengan produk Indonesia. Dengan langkah-langkah proaktif ini, Indonesia bertekad untuk terus memperkuat posisinya sebagai pemain penting dalam perdagangan internasional.











