Indonesia Hentikan Impor Beras, Harga Pangan Dunia Anjlok

Budi Santoso

Indonesia Hentikan Impor Beras, Harga Pangan Dunia Anjlok

Indonesia telah mencapai tonggak sejarah dengan menghentikan total impor beras sejak tahun 2025, sebuah langkah strategis yang tidak hanya mengokohkan ketahanan pangan nasional tetapi juga memberikan dampak signifikan terhadap stabilitas harga pangan global. Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andi Amran Sulaiman, memaparkan bahwa keberhasilan ini merupakan buah dari penguatan produksi dalam negeri yang masif dan optimalisasi cadangan pangan pemerintah. Amran menjelaskan bahwa di masa lalu, ketika Indonesia masih mengimpor beras hingga 7 juta ton, harga komoditas ini di pasar internasional bisa melonjak hingga US$ 660 per ton. Namun, dengan strategi mandiri, harga beras dunia mengalami penurunan drastis, bahkan sempat menyentuh angka US$ 340 per ton.

Proyeksi Neraca Pangan Nasional Tahun 2025 menunjukkan angka produksi beras nasional yang impresif, mencapai 34,69 juta ton, sementara kebutuhan konsumsi nasional hanya berkisar 31,16 juta ton. Selisih surplus ini memastikan bahwa kebutuhan pangan nasional dapat sepenuhnya dipenuhi dari produksi domestik sepanjang tahun 2025, meniadakan ketergantungan pada impor. Dampak nyata dari kebijakan ini tercermin pada indeks harga beras internasional. Berdasarkan data dari The Food and Agriculture Organization (FAO), FAO All Rice Price Index (FARPI) menunjukkan tren penurunan yang berkelanjutan sepanjang tahun 2025, bahkan mencapai titik terendah dalam empat tahun terakhir pada November 2025, yaitu di level 96,9.

Baca Juga :  Prabowo Tegaskan Pengelolaan SDA Mandiri Demi Kesejahteraan Rakyat

Lebih lanjut, Amran menyoroti pencapaian stok beras pemerintah yang kini berada pada rekor tertinggi sepanjang sejarah Indonesia, yaitu sekitar 5,12 juta ton. Angka ini melampaui rekor sebelumnya di tahun 1984 yang hanya mencapai sekitar 2,6 juta ton. Penguatan sektor pangan nasional ini tidak hanya menaikkan posisi Indonesia di mata dunia, tetapi juga mendatangkan pengakuan internasional. Jika di era Presiden Soeharto Indonesia pernah mendapat penghargaan dari FAO atas keberhasilan pangan, kini di era Presiden Prabowo, Indonesia kembali meraih dua penghargaan bergengsi dari FAO dalam satu tahun, yaitu penghargaan tertinggi bidang ketahanan pangan dan penghargaan atas kontribusi dalam memperkuat sistem pangan global.

Keberhasilan Indonesia dalam menurunkan impor beras juga diakui secara internasional. Laporan Rice Outlook April 2026 dari United States Department of Agriculture (USDA) menempatkan Indonesia sebagai negara dengan penurunan impor beras paling signifikan di antara sekitar 80 negara lainnya, dengan angka penurunan mencapai 3,8 juta ton pada tahun 2025 dibandingkan tahun sebelumnya. Amran menegaskan bahwa penguatan produksi pangan nasional ini memberikan manfaat ganda: tidak hanya meningkatkan kedaulatan pangan Indonesia, tetapi juga secara langsung meningkatkan kesejahteraan petani. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tren positif pada Nilai Tukar Petani (NTP) Tanpa Perikanan yang secara nasional konsisten berada di atas 120 sejak Juli 2024, bahkan mencapai indeks tertinggi dalam tujuh tahun terakhir di Desember 2025 dan Februari 2026 (126,11). Indeks harga yang diterima petani padi juga menunjukkan kenaikan, dengan konsisten berada di atas 130 poin sejak Juni 2024 dan mencapai 144,52 pada Maret 2026. Amran menyimpulkan bahwa keberhasilan sektor pangan tidak hanya diukur dari peningkatan produksi, tetapi juga dari peningkatan kesejahteraan petani dan kontribusi Indonesia terhadap stabilitas pangan dunia.

Baca Juga :  Penerbangan Haji 2026 Lancar, OTP Capai 96%

Also Read

Tinggalkan komentar