
Indonesia dan Filipina secara resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) untuk memperkuat kerja sama strategis industri nikel. Kesepakatan ini, yang dikenal sebagai Strategic Nickel Industry Development Cooperation, ditandatangani antara Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) dan Philippine Nickel Industry Association (PNIA). Penandatanganan bersejarah ini disaksikan langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI, Airlangga Hartarto, dan Menteri Perdagangan dan Industri Filipina, Hon. Maria Cristina A. Roque, di sela-sela Indonesia-Philippines High Level Business Roundtable.
Menteri Airlangga Hartarto menyatakan bahwa kolaborasi ini lebih dari sekadar kerja sama biasa, melainkan fondasi bagi "Indonesia-Philippines Nickel Corridor". Platform terstruktur ini dirancang untuk menghubungkan kekuatan hilirisasi dan smelter Indonesia dengan pasokan bijih nikel hulu dari Filipina, menciptakan poros cadangan dan produksi nikel yang tak terpisahkan bagi pasar global. Ruang lingkup kerja sama mencakup pertukaran informasi untuk stabilisasi perdagangan nikel regional dan global, pengembangan bersama teknologi hilirisasi nikel, pemanfaatan nilai tambah dari produk sampingan industri pengolahan, serta pengembangan sumber daya manusia bersama untuk mendukung ekosistem industri nikel yang berkelanjutan.
Data United States Geological Survey (USGS) 2026 menunjukkan dominasi kedua negara dalam industri nikel global. Indonesia dan Filipina bersama-sama menguasai 73,6% produksi nikel global pada tahun 2025, dengan Indonesia menyumbang sekitar 66,7% (2,6 juta ton) dan Filipina sebesar 6,9% (270.000 ton). Dari sisi cadangan, Indonesia memiliki 44,5% cadangan nikel dunia (62 juta ton), sementara Filipina memiliki 3,4% (4,8 juta ton).
Dalam keterangannya, Airlangga menjelaskan bahwa Indonesia telah membangun ekosistem hilirisasi nikel yang masif, dengan nilai ekspor produk olahan nikel mencapai US$ 9,73 miliar pada 2025. Proyeksi investasi hingga US$ 47,36 miliar dan penyerapan 180.600 tenaga kerja ditargetkan tercapai pada 2030. Smelter-smelter di Indonesia membutuhkan pasokan bijih yang stabil dengan rasio silikon terhadap magnesium (Si:Mg) yang tepat, yang dapat dipenuhi dari bijih nikel Filipina melalui proses blending.
"Dengan koridor ini, Filipina tidak lagi hanya menjadi eksportir bijih mentah. Filipina akan terintegrasi ke dalam rantai nilai regional yang lebih tinggi, sementara Indonesia mendapatkan jaminan keamanan pasokan (feedstock security) untuk industri hulu baterai dan baja tahan karat kita," ujar Airlangga. Langkah ini sejalan dengan arahan KTT AECC ke-27 untuk memperkuat rantai pasok kritis di kawasan ASEAN.
Lebih lanjut, Airlangga menekankan peran sentral nikel sebagai mineral kritis dalam transisi energi. Produk turunan nikel dapat diintegrasikan ke dalam strategi ketahanan energi nasional maupun kawasan melalui penguatan penyimpanan energi (energy storage), baik untuk baterai kendaraan listrik (EV) maupun baterai untuk penyimpanan energi panel surya. Dengan demikian, hilirisasi nikel tidak hanya mendukung sektor industri, tetapi juga berkontribusi langsung terhadap bauran energi bersih dan berkelanjutan.











