
Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung menyatakan optimisme mengenai kepercayaan investor, baik domestik maupun asing, terhadap fundamental fiskal Indonesia. Keyakinan ini tercermin dalam stabilitas kinerja Surat Berharga Negara (SBN) di tengah gejolak ketidakpastian global yang terus membayangi. Meskipun mengakui adanya kenaikan imbal hasil (yield) pada instrumen utang negara, Juda Agung menegaskan bahwa fenomena ini merupakan hal yang wajar dan sejalan dengan tren global. Peningkatan yield SBN, menurutnya, tidak menunjukkan pelemahan fiskal Indonesia, melainkan respons pasar terhadap meningkatnya tensi geopolitik dan konflik global yang memicu ketidakpastian.
"Kinerja pasar SBN kita masih baik. Ini menandakan pasar masih percaya pada kondisi fiskal kita. Kenaikan yield memang terjadi, namun ini serupa dengan kenaikan yield US Treasury 10 tahun. Ini adalah respons umum terhadap meningkatnya ketidakpastian akibat perang," jelas Juda Agung dalam Rapat Koordinasi Pembangunan Pusat (Rakorbangpus) RKP Tahun 2027 di Jakarta.
Untuk memperkuat argumennya, Wamenkeu memberikan perbandingan historis. Ia menekankan bahwa jika kondisi fiskal Indonesia memburuk secara signifikan, imbal hasil SBN akan melonjak drastis, mirip dengan situasi krisis pada periode sebelumnya seperti tahun 2008 atau 2018. Namun, saat ini, yield SBN, baik dalam valuta asing maupun rupiah tenor 10 tahun, menunjukkan tren stabilisasi. "Jika yield dapat terjaga seperti ini, ini membuktikan bahwa investor domestik dan global masih memiliki keyakinan terhadap kondisi fiskal kita," ujar Juda Agung. Ia menambahkan, "Jika fiskal kita jeblok, yield akan meningkat tajam, seperti saat krisis. Namun, saat ini, semuanya masih terjaga dengan baik."
Selain stabilitas yield, indikator lain yang memperkuat kepercayaan investor adalah rendahnya yield spread SBN Indonesia dibandingkan dengan US Treasury. Spread yang relatif tipis ini menempatkan Indonesia pada posisi yang lebih baik dibandingkan negara-negara berkembang lainnya seperti Filipina, India, Afrika Selatan, Meksiko, apalagi Brasil. "Yield spread kita terhadap US Treasury relatif rendah, hanya 237, jika dibandingkan negara lain. Kita masih mampu menjaga spread ini, yang menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap fiskal kita masih cukup luas," imbuhnya.
Rendahnya yield spread ini merupakan sinyal positif dari pasar, menegaskan bahwa kondisi fiskal Indonesia masih dianggap solid dan mampu menghadapi tantangan ekonomi global. Stabilitas SBN dan selisih imbal hasil yang terjaga menjadi bukti nyata kepercayaan investor terhadap pengelolaan keuangan negara yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Situasi ini memberikan fondasi yang kuat bagi keberlanjutan pembangunan ekonomi di tengah ketidakpastian global.











