
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas resmi menjalin kerja sama strategis penguatan ekosistem dirgantara nasional dengan Airbus, salah satu produsen pesawat terbesar dunia. Penandatanganan Joint Declaration of Intent (JDI) antara Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy dan Presiden Airbus Asia-Pacific Anand Stanley di Jakarta menandai awal kolaborasi ini. Kerja sama ini tidak hanya berfokus pada pengadaan pesawat, tetapi juga pengembangan industri terkait secara menyeluruh, termasuk rantai pasok industri pesawat terbang.
Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menekankan pentingnya pengembangan industri kedirgantaraan Indonesia secara komprehensif, melampaui sekadar transaksi dan penggunaan pesawat. "Pengembangan industri kedirgantaraan Indonesia harus dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya sebatas transaksi dan pemakaian pesawat, namun harus lebih luas lagi, yaitu mencakup rantai pasok industri pesawat terbang," ujar Rachmat. Penguatan industri ini mencakup pengembangan sumber daya manusia (SDM), sistem perawatan dan pemeliharaan (MRO), serta peningkatan kapasitas industri dalam negeri. Tujuannya adalah menjadikan Indonesia tidak hanya sebagai pasar, tetapi juga pusat pertumbuhan industri dirgantara di kawasan.
Rachmat mencontohkan bahwa satu unit pesawat A320 membutuhkan sekitar 4 juta komponen dari 30 negara. Dengan penguatan kapasitas industri kedirgantaraan, Indonesia berpotensi menjadi bagian integral dari rantai pasok global. Harapannya, PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dapat menjadi pemasok tingkat pertama (tier 1 supplier) bagi Airbus, bahkan mampu memproduksi komponen vital seperti sayap pesawat A320 atau seluruh pesawat, yang nantinya akan didukung pembangunan pabrik di Kertajati. Untuk mencapai hal ini, peningkatan standar kualitas, efisiensi operasional, pemanfaatan teknologi, dan penguatan SDM menjadi krusial.
Pentingnya pengembangan industri kedirgantaraan juga didorong oleh posisi Indonesia sebagai negara kepulauan yang sangat bergantung pada sektor penerbangan untuk konektivitas nasional. Kebutuhan akan ekspansi kapasitas armada udara sangat mendesak, dengan proyeksi peningkatan jumlah armada aktif dari sekitar 550 unit saat ini menjadi 1.900 unit pada tahun 2045.
Presiden Airbus Asia-Pacific Anand Stanley menambahkan bahwa kerja sama antara Airbus dan Indonesia telah terjalin lebih dari 50 tahun sejak 1976. Selama periode tersebut, kolaborasi terus berkembang, termasuk dalam sektor manufaktur berbagai komponen pesawat A320, A330, A350, dan helikopter H225 yang diekspor dari Indonesia. Airbus juga aktif mendukung pembangunan kapital manusia di Indonesia, mulai dari pilot, insinyur, hingga teknisi, serta pembangunan di sektor MRO.
Melalui kerja sama strategis ini, Airbus berupaya memperkuat rantai pasoknya untuk berbagai produk pesawat dan helikopter dari Indonesia. Selain itu, fokus pada pengembangan SDM dan teknisi pemeliharaan pesawat juga menjadi prioritas. "Kami ingin berkongsi untuk membangun, bukan hanya A320 dan A330, tetapi juga produk lainnya untuk mencapai standar global," tutup Stanley, menegaskan komitmen bersama untuk mengangkat industri dirgantara Indonesia ke kancah internasional.











