Impor Pangan Hanya 5 Persen, Amran Ungkap Indonesia Sudah Swasembada

Budi Santoso

Impor Pangan Hanya 5 Persen, Amran Ungkap Indonesia Sudah Swasembada

Secara mendetail, total produksi nasional untuk 11 komoditas pangan pokok tersebut mampu mencapai angka 73,7 juta ton dalam setahun. Sementara itu, total kebutuhan konsumsi masyarakat Indonesia berada di level 68,7 juta ton. Dengan total volume impor yang hanya mencapai 3,5 juta ton, rasio ketergantungan impor Indonesia terbukti sangat minim dan terkendali. Impor tersebut saat ini masih didominasi oleh tiga komoditas utama, yaitu kedelai sebesar 2,6 juta ton, bawang putih sebanyak 600 ribu ton, dan daging ruminansia sebesar 350 ribu ton guna menutupi celah kebutuhan domestik yang belum sepenuhnya terpenuhi oleh produksi lokal.

Kesebelas komoditas strategis yang menjadi fokus pemerintah meliputi beras, jagung pakan, cabai rawit, cabai besar, daging ayam, telur ayam, bawang merah, gula konsumsi, kedelai, bawang putih, serta daging sapi atau kerbau. Dari seluruh komoditas tersebut, beras menempati posisi paling vital karena berkontribusi mencapai 45,2 persen atau sekitar 31,1 juta ton dari total konsumsi pangan nasional. Karena porsinya yang sangat dominan dalam pola makan masyarakat, stabilitas stok beras menjadi prioritas utama pemerintah dalam menjaga ketahanan nasional sesuai amanat Peraturan Presiden Nomor 125 Tahun 2022.

Pemerintah juga mencatat rekor signifikan pada stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola oleh Perum Bulog. Hingga April 2026, stok beras nasional dilaporkan melampaui angka 5 juta ton, sebuah lonjakan eksponensial sebesar 264,2 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama dua tahun sebelumnya. Keberhasilan ini didorong oleh peningkatan tajam serapan produksi dalam negeri yang tumbuh hingga 790 persen dibandingkan periode Januari-April 2024. Peningkatan serapan yang masif ini mencerminkan produktivitas petani lokal yang semakin membaik serta sistem distribusi yang semakin efisien di berbagai daerah.

Baca Juga :  Kemenperin: Investasi Manufaktur Awal 2026 Capai Rp 418,62 Triliun

Dengan kondisi ini, pemerintah memastikan bahwa kebutuhan dasar masyarakat, baik dari sisi karbohidrat maupun protein, telah terpenuhi dengan sangat baik. Sinergi antara peningkatan produksi padi dan ketersediaan protein dari daging serta telur ayam menciptakan fondasi ketahanan pangan yang kokoh. Langkah strategis ini sekaligus mempertegas kemandirian bangsa dalam menghadapi tantangan krisis pangan global di masa depan.

Also Read

Tinggalkan komentar