IHSG Terperosok ke Level 7.129, Kapitalisasi Pasar Tergerus Signifikan

Budi Santoso

IHSG Terperosok ke Level 7.129, Kapitalisasi Pasar Tergerus Signifikan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kontraksi hebat pada penutupan perdagangan hari Jumat, 24 April 2026. Berdasarkan data terbaru dari RTI Business, indeks kebanggaan pasar modal Indonesia ini terlempar ke level 7.129,4 setelah mengalami koreksi tajam sebesar 3,38%. Penurunan ini menandakan sentimen negatif yang sangat kuat menyelimuti lantai bursa sepanjang hari, di mana indeks tidak mampu beranjak dari zona merah sejak pembukaan hingga lonceng penutupan dibunyikan. Kondisi ini mencerminkan kepanikan pasar yang cukup masif di tengah dinamika ekonomi yang tidak menentu.

Pada awal sesi perdagangan, IHSG sebenarnya dibuka di level 7.378,0 dan sempat menguat tipis ke titik tertinggi harian di 7.383,4. Namun, euforia tersebut tidak bertahan lama karena aksi jual masif segera mendominasi pasar. Tekanan jual yang terus meningkat menyeret indeks hingga menyentuh titik terendah di level 7.115,9 sebelum akhirnya sedikit berbalik arah menuju posisi penutupan. Pergerakan ini mencerminkan volatilitas yang sangat tinggi, di mana investor cenderung melakukan aksi ambil untung atau justru membatasi kerugian akibat prospek pasar yang meredup.

Aktivitas perdagangan pada hari ini tercatat sangat padat dengan volume transaksi mencapai 47,128 miliar lembar saham. Nilai transaksi harian menembus angka fantastis sebesar Rp 24,338 triliun, sebuah angka yang menunjukkan likuiditas tinggi namun sayangnya didominasi oleh aliran modal keluar (outflow). Frekuensi perdagangan juga mencatat intensitas yang luar biasa dengan total 2.685.047 kali transaksi yang dilakukan oleh para investor sepanjang sesi, menunjukkan betapa aktifnya para pelaku pasar merespons pergerakan harga yang fluktuatif.

Baca Juga :  Kontes Sapi APPSI Wonosobo 2026: Wamentan Larang Potong Betina Produktif

Kondisi pasar terlihat sangat tidak berimbang jika meninjau persebaran performa saham individu. Tercatat hanya 83 saham yang berhasil menguat di tengah badai koreksi ini. Sebaliknya, sebanyak 670 saham terjerembab di zona merah, sementara 62 saham lainnya memilih untuk bergerak stagnan atau tidak mengalami perubahan harga. Dominasi saham yang melemah ini menunjukkan bahwa koreksi terjadi secara menyeluruh di hampir semua sektor industri, mulai dari perbankan, manufaktur, hingga teknologi.

Secara akumulatif, performa IHSG menunjukkan tren yang sangat mengkhawatirkan dalam beberapa periode terakhir. Dalam kurun waktu satu minggu saja, indeks telah merosot sebesar 6,61%. Jika ditarik lebih jauh, dalam tiga bulan terakhir IHSG telah anjlok hingga 19,76%, yang hampir menyentuh wilayah pasar bearish. Penurunan sebesar 12,73% dalam enam bulan terakhir semakin mempertegas adanya tekanan struktural yang membuat investor global maupun domestik cenderung bersikap defensif. Para pelaku pasar kini sangat menantikan kebijakan strategis dari otoritas moneter dan fiskal untuk memberikan stimulus atau kepastian guna menstabilkan kondisi pasar modal yang sedang dalam tekanan hebat ini.

Also Read

Tinggalkan komentar